Monday, 31 August 2015

Legenda Rumah Merah

Konon katanya, keberadaan sebuah “rumah merah” yang terletak di salah satu taman di Rumah Khalwat Roncalli Salatiga ada legendanya. Entah dari siapa yang memulai cerita itu dan bagaimana legendanya kami sendiri tidak tahu. Dan kami tidak perlu tahu karena keberadaan kami di tempat ini bukan untuk mencari tahu tentang legenda rumah merah itu, bukan untuk itu.
Kami berada di sini untuk mengikuti Kursus Persiapan Profesi Kekal. Pada KPPK gelombang II ini diikuti oleh 48 peserta dari 17 tarekat. Kami datang dari berbagai daerah di Indonesia: dari Jawa, Sumatra, Kalimantan, Nusa Tenggara, Ambon dan Papua. Ada juga yang berasal dari negara tetangga yaitu Timor Leste dan dari negeri upin dan ipin. Kami datang dengan satu tujuan untuk mengikuti Kursus Persiapan Profesi Kekal. Kami tinggal dan ada bersama sebagai satu keluarga besar yang menamakan diri sebagai kaum berjubah dan para pelaku hidup bakti. Dalam sebuah rumah yang nyaman dan sejuk serta alam yang asri, kami mendapat pelayanan yang tulus dari seorang pastor, para bruder, para suster dan bapak-ibu pegawai.
Berbagai proses kami alami: perkuliahan di kelas, sharing dan pendalaman dalam kelompok maupun bersama pendamping kami masing-masing, latihan doa, olahraga, piknik, makan dan rekreasi bersama dan semua pengalaman kebersamaan ini kami satukan dalam perayaan Ekaristi Kudus. Harapannya bahwa semua proses yang kami alami di sini dapat menempa kami menjadi pribadi-pribadi tangguh yang dapat diandalkan dalam tarekat kami masing-masing.
Melalui buku harian kami ditunjukkan sebuah cara yang sederhana untuk mengungkapkan semua rasa dan pergulatan harian kami pada tempat yang paling ideal. Melalui spiritualitas doa, kami diajari cara-cara praktis membangun relasi dengan DIA yang memanggil kami. Doa adalah hadir di hadapan DIA yang dicintai dan mencintai kami dengan semua perasaan dan pengalaman yang kami alami. Melalui sejarah hidup bakti kami diingatkan kembali pada sejarah pendirian tarekat kami masing-masing dengan keprihatinan awal pendiri yang kini menjadi keprihatinan generasi kami juga. Tentu tetap disesuaikan dengan perkembangan dan tuntutan zaman tanpa harus mengabaikan relevansinya sehingga keprihatinan awal pendiri kami tetap menjadi roh yang menghidupkan karya pelayanan kami saat ini.
Kami sadar bahwa kami berasal dari keluarga masing-masing yang mempunyai sejarah dan kisahnya sendiri-sendiri. Ada yang penuh canda dan tawa oleh keutuhan cinta dan perhatian orang tua. Tetapi ada juga yang sejarah hidupnya penuh derita dan deraian air mata lantaran ditinggal ayah, ibu dan orang-orang terdekat lainnya. Ada juga yang kisah hidupnya diwarnai dengan berbagai pergulatan dan beragam pengalaman traumatis. Menyikapi ini semua kami dibantu dalam proses “healing” untuk mengakui keberadaannya dan menerimanya sebagai bagian dari cerita hidup kami. Kami ingin berdamai dengan masa lalu kami, kami ingin sehat, sembuh dan menjadi pribadi yang utuh secara jasmani, mental dan spiritual.
Pemahaman yang baik terhadap seksualitas dan spiritualitas menjadi penting bagi kami supaya hidup kami menjadi utuh dan seimbang seperti Yesus yang kami ikuti. Hal ini juga sejalan dengan penghayatan hidup komunitas dan kaul-kaul kami. Kami dituntun untuk menata kekhasan hidup kami ini agar semakin menyerupai DIA yang menjadi idola kami.
Dengan melihat kembali perjalanan hidup kami, pada momen-momen dimana kami mengalami perjumpaan dengan Allah yang penuh kasih secara mendalam, yang menjadi pengalaman mistik dan landasan fundamental dalam kesaksian profetik atau kenabian kami, kami semakin mantap akan keputusan mana yang akan kami pilih untuk kelanjutan hidup panggilan kami. Tentu kami perlu melewati proses discernment dengan melihat seluruh pengalaman konsolasi dimana kami mengalami Allah secara nyata juga pengalaman desolasi, pengalaman dimana kami mengalami Allah yang seolah-olah jauh, Allah yang dialami secara tersamar.
Semua proses ini sangat membantu kami untuk memutuskan dan memilih yang terbaik. Apakah kami dengan mantap melangkah ke altar Tuhan, membawa diri dan seluruh keberadaan kami untuk dipersembahkan sebagai kurban yang hidup untuk kemuliaan nama Tuhan. Ataukah kami harus berpaling dari jalan ini untuk melangkah ke jalan yang lain.
Kami perlu dengan bebas, sadar, tahu dan mau untuk melilih satu yang terbaik agar kami bisa menjadi religius yang penuh sukacita dalam cara hidup dan karya pelayanan kami, bukan menjadi religius yang seperti orang yang baru pulang dari pemakaman atau menjadi religius yang ledra-ledre. Kami yakin bahwa Allah Tritunggal, Bunda Maria dan Santo Yosef, para pelindung, pendiri dan pemimpin kami, orang tua kami di rumah atau yang sudah berada di surga, sanak keluarga dan sahabat kenalan kami serta sudara dan saudari kami sekongregasi akan meneguhkan keputusan kami. Kami percaya bahwa Tuhan akan mengantar kami pada sebuah keputusan yang terbaik bagi kehidupan kami karena Tuhan adalah Allah kami yang tidak pernah kalah akal. Untuk itu kami ingin mengungkapan rasa syukur dan terima kasih kami kepada-Nya melalui pujian yang berjudul “Thank You Lord”, song by Don Moen.
Readmore → Legenda Rumah Merah

Wednesday, 22 July 2015

Spiritualitas Sepak Bola


Pengantar
Sepak bola adalah cabang olahraga yang paling popular di dunia saat ini. Memasuki abad ke-21, olahraga ini telah dimainkan oleh lebih dari 250 juta orang di 200-an negara. Olahraga yang telah dimulai sejak abad ke 2-3 SM oleh dinasti Han di negeri Cina ini digandrungi oleh hampir semua lapisan masyarakat, kelompok usia, pria maupun wanita. Mereka berpatisipasi dalam dunia sepak bola entah sebagai pemain, pendukung, peminat, penonton secara langsung atau melalui televisi, pendengar radio atau pembaca media cetak.
Tulisan ini tidak bermaksud untuk memaparkan sejarah ataupun perkembangan sepak bola. Tulisan ini merupakn uraian sederhana dari gagasan-gagasan reflektif tentang nilai-nilai yang bisa dimaknai dalam olahraga sepak bola. Ulasan spiritualitas sepak bola ini akan ditinjau dari tiga aspek yang terkandung di dalamnya sebagaimana spirit kegiatan Refreshing Tahunan para Frater BHK pada Desember 2014, yaitu Olah raga, Olah rasa dan Olah mental beserta hubungannya dengan komunitas hidup membiara.

Olah Raga
Seperti olahraga pada umumnya, sepak bola juga merupakan sebuah aktivitas fisik yang efektif dalam mengolah raga atau tubuh kita menjadi lebih sehat. Raga atau tubuh jasmani kita yang menjadi lelah dan kurang bersemangat oleh karena berbagai pekerjaan terutama yang menguras pikiran perlu diolah kembali melalui sepak bola. Olahraga ini adalah salah satu upaya alternatif untuk membuat tubuh kita menjadi lebih sehat, segar dan bersemangat.
Menurut para spesialis ortopedi, dengan melakukan olahraga sepak bola secara tertatur, tubuh kita akan memiliki kepadatan tulang 1,3 lebih tinggi. Kepadatan tulang yang tinggi meminimalisir terjadinya osteoporosis yang membuat badan kita menjadi bungkuk. Hal ini berarti, olahraga sepak bola yang dilakukan secara teratur dapat mengurangi dampak pembungkukan badan yang disebabkan oleh osteoporosis.
Sepak bola juga dapat meningkatkan kesegaran tubuh, fleksibilitas dan kekuatan otot. Bermain sepak bola meningkatkan kekuatan otot kaki, paha, perut dan dada. Otot yang terus dilatih membuat tubuh menjadi lebih sehat, fleksibel, segar dan berdaya tahan kuat sehingga tidak mudah terserang virus penyakit.
Bagi yang ingin menjaga badannya agar tetap ideal, olahraga sepak bola bisa menjadi salah satu pilihan solusi. Permainan sepak bola merupakan kombinasi gerakan olahraga aerobic. Dua gerakan yang mutlak dilakukan dalam permainan sepak bola adalah lari dan lompat. Kedua gerakan ini cukup efektif dalam membakar lemak tubuh untuk menghindari kegemukan dan membuat badan tetap ideal. Lari dan lompat juga membantu jantung supaya bisa bekerja secara lebih efisien.    

Olah Rasa
Olah rasa merupakan teknik dalam mengolah atau mengontrol dinamika emosi atau perasaan-perasaan. Di dalam permainan sepak bola kita pasti akan mengalami berbagai perasaan. Misalnya, senang karena menang atau sedih dan kecewa karena kalah, bangga karena menciptakan gol atau karena permainan kita dinilai baik, marah karena dikasari pemain lawan atau juga jengkel karena teman dalam tim kita bermain kurang baik, dan sebagainya. Semua perasaan ini normal dan baik untuk dialami lantaran kita adalah manusia yang berpesaraan. Menjadi tidak baik jika perasaan-perasaan itu membawa kita pada dampak negatif. Misalnya, terjadi perkelahian karena benturan yang terjadi dalam permainan. Kita mereaksi benturan bukan dalam tindakan yang sportif tetapi melibatkan aksi kekerasan fisik. Di sisi lain misalnya karena kekesalan atau kekecewaan yang kita rasakan oleh karena permainan teman dalam tim kita kurang baik, kita menjadi sangat marah lalu memperlihatkan reaksi-reaksi negatif. Reaksi-reaksi negatif yang diperlihatkan entah secara verbal mau non-verbal dapat mempengaruhi mental orang lain. Ia akan merasa tertekan, takut, malu dan kurang bersemangat.
Oleh karena itu, dibutuhkan kedewasaan dan kematangan emosional dalam menyikapi setiap gesekan atau benturan serta masalah-masalah yang terjadi di lapangan dalam permainan sepak bola. Menurut Hurlock (1990), individu yang dikatakan matang secara emosional yaitu:
a)   Dapat melakukan kontrol diri yang bisa diterima secara sosial. Individu yang emosinya matang mampu mengontrol ekspresi emosi yang tidak dapat diterima secara sosial atau membebaskan diri dari energi fisik dan mental yang tertahan dengan cara yang dapat diterima secara sosial.
b)  Pemahaman diri. Individu yang matang, belajar memahami seberapa banyak kontrol yang dibutuhkannya untuk memuaskan kebutuhannya dan sesuai dengan harapan masyarakat.
c)    Menggunakan kemampuan kritis mental. Individu yang matang berusaha menilai situasi secara kritis sebelum meresponnya, kemudian memutuskan bagaimana cara bereaksi terhadap situasi tersebut.
Senada dengan pendapat di atas Covey (2005), mengemukakan bahwa kematangan emosi adalah kemampuan untuk mengekspresikan perasaan yang ada dalam diri secara yakin dan berani, diimbangi dengan pertimbangan-pertimbangan akan perasaan dan keyakinan individu lain.
Berdasarkan gagasan-gagasan di atas dapat disimpulkan bahwa kematangan emosi seseorang ditentukan oleh pemahaman diri yang baik dan kemampuan mengontrolnya serta kapabilitas dalam mengkritisi situasi dan mengekspresikannya secara bijak agar dapat diterima orang lain dalam kehidupan bersama. Kita dapat mengolah dan melatih diri melalui olah rasa dalam permainan sepak bola.

Olah Mental
Seperti yang telah diuraikan di atas, olahraga sepak bola membawa pengaruh baik dalam meningkatkan kesehatan tubuh (fisik) maupun emosional seseorang. Aktivitas fisik yang dilakukan dalam sepak bola juga memberi dampak positif dalam menyembuhkan masalah kesehatan mental dan stres. Setiap aktivitas fisik memproduksi endorfin yaitu molekul yang berfungsi sebagai obat penenang dan mengurangi rasa sakit karena ketegangan atau stres.     Secara lengkap dampak positif dari olahraga secara umum berdasarkan temuan Daniel M. Landers, professor ilmu kesehatan fisik dan olahraga dari universitas Arizona dapat diuraikan seperti berikut:
a)    Olahraga dapat mengurangi stres
Berolahraga dapat membantu kita mengurangi kegelisahan hati dan bahkan dapat melawan kemarahan. Ketika jantung kita bekerja pada saat berolahraga, maka otomatis konsentrasi pikiran tidak akan terfokus pada masalah. Selain dapat mengalihkan pikiran, aerobik yang rutin juga dapat meningkatkan ketahanan kardiovaskular (berkaitan dengan kesehatan jantung dan pembuluh darah), sehingga nantinya kita dapat bersikap tidak terlalu berlebihan dalam menyikapi suatu masalah. Aktifitas yang terbukti efektif dalam melawan ketegangan otak adalah aerobik seperti berjalan kaki, bersepeda, renang, lari dan lompat.
b)    Olahraga dapat meningkatkan kekuatan otak
Kegiatan fisik yang dilakukan secara rutin dan teratur bisa meningkatkan daya reaksi, konsentrasi, kreativitas dan kesehatan mental kita. Hal ini terjadi karena tubuh memompa lebih banyak darah sehingga kadar oksigen dalam peredaran darah juga meningkat sehingga mempercepat pemasukan darah ke otak. Para ahli berpendapat, bahwa otak yang cukup mendapat asupan darah berdampak pada meningkatnya reaksi fisik dan mental seseorang.
c)    Olahraga dapat melawan penuaan
Hasil penelitian membuktikan bahwa dengan hanya berolahraga ringan seperti berjalan kaki saja dapat membantu tubuh mencegah penurunan daya kerja otak bagi para lanjut usia. Semakin lama dan seringnya kegiatan berjalan kaki ini dilakukan maka ketajaman pikiran dan daya ingat juga akan semakin membaik.
d)    Olahraga dapat meningkat perasaan bahagia
Jalan menuju kebahagian secara alami dapat diraih dengan menggerakkan tubuh secara rutin. Olahraga terbukti manjur dalam meningkatkan hormon penumbuh rasa bahagia dalam otak kita, seperti adrenalin, serotonin, dopamin dan endorphin, yang merupakan pembunuh nomor satu penyakit hati. Olahraga juga dapat mengurangi rasa bosan serta meningkatkan kualitas dan kuantitas tidur.
e)    Olahraga dapat meningkatkan kepercayaan diri
Dewasa ini rasa percaya diri dapat dicapai tidak hanya dengan mengandalkan keindahan fisik saja. Sebuah studi kasus di AS membuktikan bahwa para remaja yang aktif berolahraga memiliki kadar kepercayaan diri yang sama kuat dengan teman-teman mereka yang memiliki tubuh dan penampilan indah. Kemantapan diri ini terletak pada hasil yang mereka dapatkan, yakni citra tubuh yang sehat dan kekuatan fisik yang prima.
Tubuh yang sehat membawa hidup dalam ketenangan. Ada keharmonisan dan damai yang mengalir dari dalam diri. Olahraga yang teratur akan memberikan kesehatan tubuh yang baik dan juga ketenangan pikiran (mental) serta pencapaian kemampuan intelek yang lebih tinggi. Sepak bola adalah satu olahraga yang membawa kita pada kesehatan tubuh, emosi dan mental.

Spiritualitas Sepak Bola dan Hidup Membiara
Dalam hidup membiara, spiritualitas sepak bola berperan sebagai faktor lain yang turut mendukung para pelaku hidup bakti dalam menjalani hidupnya. Berbagai hal yang telah dikemukakan di atas jika diperhatikan dan dijalani dengan sungguh-sungguh dapat memberi andil untuk menjaga kesehatan mereka baik secara jasmani, hidup rasa (emosi) maupun mental. Hal ini menjadi penting karena jika tubuh secara utuh (mencakup raga, rasa dan mental) dalam keadaan sehat, karya pelayanan yang diembani dapat dijalani dengan baik, tanggung jawab, semangat dan penuh sukacita.
Selain itu, ada hal-hal lain yang menjadi bagian dari spiritualitas sepak bola yang juga berkontribusi bagi kehidupan membiara di antaranya sebagai berikut:
a)    Latihan kepemimpinan dan kerja sama
Sepak bola adalah permainan tim. Melalui permainan sepak bola, kita melatih diri berkerja dalam tim (teamwork). Di dalam sebuah tim yang ideal pasti ada seorang pemimpin dan anggota yang dipimpin. Seorang pemimpin dalam dunia sepak bola disebut kapten tim, bertugas sebagai pemimpin kelompok, mengatur, mengkoordinir dan membagi tugas anggota tim, menjadi panutan dalam hal tanggung jawab dan disiplin. Adanya kerja sama yang baik dan jujur, keterbukaan dan saling mendengarkan antara pemimpin dan anggota untuk menciptakan sebuah tim solid dan berwibawa. Model spiritualitas di lapangan sepak bola ini bisa dibawa ke dalam kehidupan bersama dalam komunitas religius.
b)    Menumbuhkan semangat persaudaraan
Dalam komunitas hidup membiara ada berbagai momen yang memungkinkan tiap anggota terlibat bersama, misalnya yang paling esensial seperti doa, makan dan rekreasi. Ada juga karya perutusan yang dijalani bersama. Sepak bola juga adalah salah satu aktivitas dalam komunitas religius yang dilakukan bersama saudara yang lain. Olahraga ini mampu menumbuhkan semangat persaudaraan karena dalam bermain setiap anggota bisa saling melayani, saling mendukung, saling mengingatkan; ada kerendahan hati untuk mengakui kesalahan yang dilakukan; ada tawa canda, senda gura, kegembiraan dan sukacita yang mengalir secara alami. Semua hal itu dapat menguatkan ikatan tali persaudaraan sebagai satu keluarga religius.
c)    Sarana sublimasi
Dalam psikologi, sublimasi ialah suatu proses kejiwaan berupa penggunaan aktivitas pengganti untuk memuaskan motif-motif yang tidak tersalurkan dengan cara yang dapat diterima secara sosial. Atau secara sederhana dapat dikatakan sublimasi merupakan upaya menyalurkan energi negatif melalui aktivitas yang positif dan bermanfaat.
Para pelaku hidup bakti oleh karena kesibukannya menjalani tugas perutusan maupun keseharian dalam hidup berkomunitas dapat pula mengalangi kepenatan, bosan, jenuh, lesu dan stres. Semua energi negatif tersebut dapat disalurkan (dibuang) di lapangan melalui permainan sepak bola sehingga tubuh menjadi lebih semangat, segar, sehat dan terhindar dari tumpukan energi-energi negatif yang tidak baik untuk kesehatan mental.
d)    Latihan bersosialisasi
Tak dapat dipungkiri bahwa kehidupan membiara berpotensi membangun hidup bersama dengan orang lain (umat/masyarakat). Permainan sepak bola yang adalah permainan tim membantu meningkatkan kemampuan bersosialisasi. Artinya, dalam olahraga ini tersedia kesempatan untuk belajar berinteraksi dengan orang lain, mengenal dan dikenal orang lain, memiliki banyak teman, berkomunikasi dengan mereka dan berkolaborasi sebagai sebuah tim. Hal-hal tersebut sangat berguna bagi para pelaku hidup bakti sebagai modal untuk membangun relasi dengan orang-orang di luar biara khususnya orang-orang yang mereka layani maupun yang berkarya bersama mereka.
Itulah nilai-nilai yang bisa dipetik dan dimaknai dalam permainan sepak bola. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa spiritualitas sepak bola turut memberi sumbangsih bagi kehidupan membiara sejauh para pelaku hidup bakti itu mau dan mampu memaknainya.

Penutup
Olahraga sepak bola sangat bermanfaat bagi kesehatan jasmani maupun rohani manusia. Tiga aspek yaitu raga, rasa dan mental sebagai satu kesatuan yang utuh dalam diri seorang individu dapat diolah melalui olahraga yang sangat popular ini. Kecerdasan mengolah ketiga aspek tersebut penting dimiliki agar spiritualitas sepak bola bermanfaat bagi kesehatan jiwa raga manusia. 
Bagi komunitas religius, olahraga sepak bola juga memberi andil sebagai sarana membangun hidup bersama dan persaudaraan yang lebih kuat, sehat dan penuh sukacita. Bagaimana cara mengolahnya, kembali kepada masing-masing pribadi yang bersangkutan. Perlu juga diberi penekanan bahwa semua hal positif yang diperoleh dari olahraga sepak bola bisa berubah menjadi masalah jika dilakukan tanpa dilandasi sikap tanggung jawab dan tahu batas. Oleh karena itu, dibutuhkan kedewasaan dan kerendahan hati; tahu batas waktu, sadar akan kekuatan fisik yang dimiliki; perlu istirahat jika sudah lelah sehingga selalu ada spirit baru untuk aktivitas-aktivitas dan tugas-tugas lain di komunitas setelah olahraga sepak bola.
Readmore → Spiritualitas Sepak Bola

Sunday, 12 July 2015

Penjubahan

10 tahun lalu, tepatnya pada 12 Juli 2005. Hari itu adalah hari bersejarah dalam perjalanan hidup panggilan saya sebagai seorang Frater Bunda Hati Kudus. Pada hari itu saya memulai masa novisiat, tahap kedua masa pembinaan untuk menjadi seorang biarawan. Sebelumnya saya telah melewati tahap pembinaan awal selama setahun di Postulat yang bertempat di Maumere-Flores.
Masa novisiat berlangsung selama dua tahun yang diawali dengan serangkaian seremoni di antaranya, penjubahan (mengenakan busana biara), penyerahan konstitusi (sebuah buku yang berisi pedoman dan tata cara hidup sebagai seorang frater) serta pemberian nama biara, dari Arianus Adam Raja Oja (nama asli) menjadi Frater Maria Walterus, BHK (nama biara). Upacara tersebut dilaksanakan di Novisiat Frater BHK-Malang dalam sebuah Perayaan Ekaristi kudus bersama para frater dan umat yang diundang.
Jubah atau busana biara yang dikenakan berwarna putih dengan sabuk putih sebagai ikat pinggang atau disebut juga single. Jubah putih selain menjadi tanda kekhasan atau identitas kongregasi juga bermakna sebagai simbol penyerahan diri untuk hidup suci dan kudus bagi Allah. Sedangkan dengan mengenakan ikat pinggang (single) setiap frater diharapkan untuk menghidupi spiritualitas kehambaan seperti yang ditunjukkan oleh Tuhan Yesus dalam upacara pembasuhan kaki para murid-Nya pada malam Perjamuan Terakhir. Teladan pelayanan Yesus ini adalah semangat yang hendak dihayati oleh setiap frater yang terpanggil menjadi pengikut-Nya.
Adapun nama Walterus yang saya pilih sebagai nama biara saya adalah sebuah nama yang saya ambil dari nama seorang frater Belanda, yaitu Frater Maria Walterus (P. F. J. van Hoesel). Frater ini telah meninggal pada 31 Maret 2004. Alasan saya memilih namanya dilatarbelakangi sebuah harapan agar kelak saya bisa setia sampai mati sebagai seorang frater seperti dia. Saya juga ingin meneladani cara hidupnya sebagai seorang guru yang sederhana, yang sebagian besar hidupnya dipersembahkan untuk mendapingi kaum muda.
Di hari bersejarah itu akan menjadi sangat istimewa apabila dihadiri oleh orang-orang terdekat terutama orang tua. Tentu berdasarkan pertimbangan jarak dan biaya perjalanan (transportasi). Saya secara pribadi tidak terlalu kecewa dengan ketiadaan orang tua atau pun handai taulan yang turut hadir dalam upacara itu. Namun saya merasakan bahwa ada sesuatu yang kurang dalam momen istimewa di hari bahagia itu. Maksud hati ingin berbagi kebahagiaan bersama keluarga terutama orang tua, khususnya ibuku, namun apa daya ia telah tiada. Melalui doa dalam kesyahduan kukirimkan rasa bahagiaku bagi dia yang di atas sana sembari memohon doa dan restunya bagi langkah hidup panggilanku selanjutnya. Dan kepada Tuhan kupanjatkan syukurku atas rahmat panggilan suci ini.

Malang, 12 Juli 2015
Readmore → Penjubahan

Tuesday, 30 June 2015

Ayah, Pemilik Cinta yang Hampir Dilupakan

Aku pernah membaca sebuah buku kecil yang di dalamnya tertulis kisah-kisah menarik tentang seorang ayah. Aku membeli buku itu di sebuah minimarket dekat rumah. Setelah membaca penggalan-penggalan cerita pendek yang dikisahkan dalam buku setebal 190 halaman itu, aku menjadi sangat rindu pada ayahku yang berada di kampung.
Kisah-kisah inspiratif tentang seorang ayah yang disampaikan melalui buku kecil itu membawaku pada sebuah kesadaran bahwa begitu besar cinta seorang lelaki yang diserahi amanah oleh Sang Khalik menjadi ayahku. Cinta tulusnya yang kadang tampak tersamar karena bersembunyi di balik kelembutan kasih sayang ibu. Benarlah kata orang bahwa seorang ayah adalah pemilik cinta yang kadang tak dianggap. Demikian juga ayahku. Mengatakan bahwa ayah mencintai kami, putra-putrinya rasanya aneh. Apalagi setelah ibu meninggal dunia, ayah pergi meninggalkan kami untuk merantau ke negeri orang. Bertahun-tahun hidup tanpa orang tua, bisa dibayangkan betapa merananya kami.
Namun itu dulu. Sekarang, saat usia kami beranjak dewasa, setelah kedua putri ayah telah menikah, kami baru menyadari betapa ayah sangat mencintai kami. Dulu kami sering protes kepada ayah, mengapa ayah tega meninggalkan kami setelah kami baru saja ditinggal ibu untuk selamanya. Sekarang, ketika kami telah mengerti tentang hidup dengan segala dinamikanya, kami baru menyadari bahwa ayah memutuskan pergi merantau bukan karena ingin menelantarkan kami. Ayah terpaksa melakukan hal itu karena ayah tidak kuat menghadapi kenyataan hidup bahwa dia harus kehilangan istri yang sangat dicintainya ketika kami masih kecil. Bagi ayah, kehilangan ibu dapat diibaratkan dengan seorang pelukis yang kehilangan pengelihatannya, seperti seorang musisi yang kehilangan pendengarannya atau seperti seorang koki yang kehilangan daya kecapnya.
Banyak orang mengatakan bahwa kepergian ayah meninggalkan kami untuk menghindari tanggung jawabnya sebagai orang tua. Apalagi semenjak ayah memiliki istri kedua setelah kepulangannya yang pertama dari tanah rantau. Keluarga besar ibu sangat kecewa dengan keputusan ayah ini. Aku dan kakak-kakakku dulu juga merasakan seperti itu. Namun sekarang kami baru menyadari bahwa ayah peduli dengan kehidupan dan masa depan kami. Ayah sebenarnya tidak tega meninggalkan kami untuk pergi merantau. Tuntutan situasilah yang membuatnya seperti itu. Dengan pergi merantau ayah hanya ingin melupakan ibu yang telah meninggalkannya. Walaupun sulit tetapi cara inilah yang bisa dilakukan ayah saat itu untuk menyembuhkan luka hatinya lantaran ditinggalkan wanita yang sangat dikasihinya, ibu kami. Tentang keberadaan ibu tiriku, ayah bermaksud dengan kehadirannya bisa memenuhi dahaga kami yang kehilangan kasih sayang seorang ibu. Apalagi ibu tiriku adalah sepupu ibuku sendiri. Ah…ayahku memang benar-benar pemilik cinta yang terlupakan. ***
“Ayah, terima kasih atas kegantengan yang kau wariskan kepadaku”. Aku pernah mem-posting kata-kata tersebut di media sosial, facebook. Sebuah kalimat pendek yang sukses menuai beragam komentar, entah yang mendukung maupun sebaliknya. Namun bukan untuk itu tujuannya. Aku menulis kata-kata itu sebagai ungkapan rasa banggaku pada ayah. Kegantengan yang kumaksudkan tidak bemakna harafia belaka. Karena memang demikian adanya. Ayahku tidak setampan bintang film Bollywood atau segagah actor-actor Hollywood. Ayahku hanyalah seorang pemuda kampung yang menjadi istimewa karena menikahi ibuku yang adalah seorang gadis cantik puteri seorang pemuka wilayah. Menurut cerita ayah, perjodohan mereka terjadi karena orang tua ibuku mengetahui bahwa orang tua ayah memiliki persediaan belis (gading gajah) yang banyak sebagai mahar perkawinan sebagaimana yang lazim dalam adat perkawinan di daerah kami. Ada 12 batang belis yang dibawa orang tua ayah untuk meminang ibu. Atas dasar inilah ayah dan ibu menjadi sepasang suami istri dan orang tua bagi kami. Pesta pernikahan mereka menjadi yang terbesar dalam sejarah perayaan-perayaan dalam keluarga besar kami. Begitulah nenekku sering bernostalgia ketika hati kami sama-sama merindu pada sesosok pribadi yang adalah ibuku dan juga puteri nenek.
Seorang Pastor pernah berkisah kepadaku untuk melengkapi cerita nenek. Katanya pernikahan orang tuaku memang sangat meriah dan berlangsung secara besar-besaran. Masih segar dalam ingatan sang Pastor yang kala itu masih seorang murid SD, sebuah lagu yang diciptakan khusus untuk pernikahan ayah-ibu. Dalam tradisiku, lagu itu diberi nama ”more”, sebuah lagu kenangan yang berisikan lirik-lirik bernuansa syukur dan pujian. Syair-syair lagu itu menjadi kenangan indah sang Gembala dan menjadi penyemangat beliau dalam perjalanan pastoralnya di daerah pedalaman Papua, tanah misi tempatnya berkarya saat ini.
Ayahku pekerja keras dan tekun. Dia memiliki jiwa seni. Cara kerjanya rapi dan tidak banyak menuntut. Meneladani kesederhaan hidupnya adalah modalku bagi perjalanan hidup panggilanku. Aku masih ingat pesan ayah ketika aku mau berangkat ke Malang untuk memasuki masa novisiatku, ayahku berkata, “nak, selamat jalan, berusahalah menekuni panggilan hidupmu dengan sungguh-sungguh. Jangan ikut orang, ikutilah ayahmu, orang yang tidak punya apa-apa ini.” Air mataku kadang tak kuasa kubendung ketika hatiku rindu pada ayah dengan kata-katanya yang sederhana ini. Pesan ayah sangat membekas dalam ingatanku di sepanjang hidupku. Ayahku menekankan pengtingnya kesederhanaan hidup seperti yang telah ditunjukkannya kepada kami, anak-anaknya. Aku sangat bersyukur karena teladan kesederhanaan  yang diwariskan oleh ayahku ini sejalan dengan semangat yang dihidupi oleh tarekatku.
Satu lagi yang membuatku kagum pada ayahku. Ternyata ayahku adalah pesepak bola sejati. Ayahku memiliki talenta yang luar biasa dalam dunia sepak bola. Ayahku pernah berkisah, di usianya yang masih sangat muda, ayah pernah terpilih menjadi pemain bola kaki di tingkat kecamatan dengan spesialis posisi sebagai penyerang. Kelihaiannya menggiring bola yang didukung dengan kualitas skill yang mumpuni membuat ayahku menjadi istimewa di mata para penonton. Aksi-aksi brilian mengolah si kulit bundar itu menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh para penggemar ayahku. Semua itu diperoleh ayahku secara alami. Ayahku tidak pernah mengenal SSB yang memang tidak ada di kampung halamannya. Kemampuannya adalah murni sebuah bakat alami pemberian Yang Kuasa.
Namun, sayangnya bakat ayahku ini akhirnya tinggal cerita. Ayahku terpaksa meninggalkan dunia sepak bola seiring dengan berakhirnya masa lajang ayahku lantaran menikah dengan ibuku di usianya yang baru 18 tahun. Padalah ayahku sudah dipersiapkan untuk menjadi pemain kabupaten mewakili kecamatannya dengan jaminan akan diangkat menjadi PNS. Pelatihnya sangat kecewa ketika mengetahui hal ini dan untuk mengobati rasa kecewanya, ia ikut hadir dalam pesta pernikahan ayahku.
Ah…ayahku memang luar biasa. Hati kecilku selalu berteriak, “aku bangga menjadi puteramu, ayah”. Kebanggaanku pada ayah semakin lengkap ketika aku sadar bahwa kesukaannku di dunia sepak bola adalah warisan ayahku dan aku sangat menikmati permainan sepak bola untuk mengisi waktu-waktu olahraga di biara dengan posisi penyerang sama seperti ayahku ketika masih aktif sebagai pemain bola kaki. Itulah makna kegantengan yang kumaksdukan yang diwarisi oleh ayahku.
Semuanya berjalan secara alami. Ayahku tidak banyak bicara. Tidak melalui ceramah atau pun petuah-petuah bijak yang disampaikannya. Semua yang dimiliki ayahku diwariskan melalui pola tingkah dan teladan hidup yang ditunjukkan dalam kesehariannya. Atas dasar inilah aku sampai punya kesimpulan sendiri tentang ayahku.
Sebagai putera sulung ayah, aku akhirnya sadar bahwa ayah pergi merantau ketika aku masih sangat kecil itu merupakan cara ayah mendidikku. Ayah tidak pernah mengajariku cara berjalan ketika kakiku sudah bisa melangkah. Ayah tidak pernah mengajariku cara memegang sendok yang benar ketika mulutku sudah bisa mengunyah makanan sendiri. Ayah tidak pernah mengajariku cara berpakaian ketika aku mulai mengenal rasa malu. Ayah tidak pernah mengajariku cara berdoa ketika aku mulai mengetahui adanya agama. Ayah pun tidak pernah memelukku ketika hatiku menangis lantaran rindu yang tak tertahankan pada ibuku yang telah tiada. Ayah juga tidak pernah mengajariku cara bermain sepak bola yang baik yang menjadi kealihannya.
Namun, satu hal yang kutahu pasti, mungkin karena ayahku terlalu baik sehingga Tuhan mengajarinya cara dalam menata masa depanku. Ayah membiarkan aku belajar mandiri sejak dini tanpa bimbingannya agar kelak aku kuat dan tangguh menjadi pewaris trahnya. Ayah mengajariku terbiasa dengan pengalaman-pengalaman penderitaan dan hidup susah tanpa tangan kekarnya yang menyanggaku agar aku bisa memaknai setiap hikmah dan pesan di baliknya. Bagi ayah, penderitaan adalah sekolah hidup yang mengajariku untuk memahami dinamika hidup yang lebih mendalam dengan iman yang lebih kuat. Ayah mengimani sebagaimana adanya Jalan Salib dan Kalvari sebelum Paskah dan “kubur kosong” demikian juga akan selalu ada kabut penderitaan sebelum adanya sebuah terang kebahagiaan. Aku diberinya ruang dan waktu untuk belajar dan mengerti banyak hal secara mandiri di bawah bimbingan kakakku yang sulung yang kehadirannya merangkap ibu sekaligus ayah bagi kami. Apakah ayahku tidak bertanggung jawab seperti yang dikeluhkan oleh beberapa orang di sekitar kami? Dengan sadar aku mengatakan bahwa ayahku adalah seorang bapak yang baik, seorang ayah yang penuh tanggung jawab. Kesadaranku ini adalah buah refleksiku tentang peran ayah yang tak kelihatan tetapi ada. Ayah membiayai kebutuhan hidup kami terutama biaya sekolah kakak-kakakku dari hasil jerih payahnya di tanah orang. Saban hari dalam setiap detak jantungnya ada wajah dengan nama kami masing-masing yang menjadi jiwa-jiwa yang sangat dirindukannya. Di sela-sela kesibukannya, ada lantunan doa yang dihunjukkan untuk kebaikan, kesehatan dan kesuksesan kami, putra-putrinya. Tentu ayahku juga mempunyai harapan-harapan yang indah bagi setiap kami.
Dan kini, di senja kehidupannya, ayahku menjadi lebih bahagia bersama ketiga jagoan ayah, buah cinta ayah dari perkawinannya bersama mamaku yang kedua yang kini telah bertakhta di singgasana Bapa di surga bersama ibuku. Hari-hari ayahku menjadi lebih ceria berkat kehadiran tiga kehidupan baru, cucu-cucu ayah. Namun, ada satu yang menjadi harapan ayah tentu juga harapanku yaitu “menanggalkan” status “mama” yang melekat di pundak putri sulungnya dan menyandingkannya di sisi seorang pria yang menjadi suaminya. Dan juga ayah ingin melihat putra bungsunya melangkah pada jalan yang telah ditunjukkannya. Itulah sekelumit kebahagiaan ayah yang masih tersimpan di memori pengharapannya.
Dan aku dengan jalan panggilanku, bahagiakah ayah dengan jalan hidup yang kupilih ini? Aku menunggu senyum ayah menyambut jubah putihku yang melangkah ke altar Tuhan, mempersembahkan diriku seutuhnya untuk kemuliaan Nama-Nya. Itulah doaku dan semoga juga menjadi doa dan harapan ayah, pemilik cinta yang hampir dilupakan.

Rumah Retret “Bintang Kejora” Pacet, 26 Juni 2015
Didedikasikan untuk ayahku.

Oleh
  Walter Odja Arryano, BHK
Readmore → Ayah, Pemilik Cinta yang Hampir Dilupakan