Wednesday, 30 September 2015

Berlibur Bersama Tuhan

Delapan hari bersama-Mu, Tuhan sungguh sebuah pengalaman “berlibur” yang menggembirakan. Karya rahmat-Mu sungguh luar biasa. “Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun Tuhan menyambut aku.” Demikianlah kata-kata Mazmur 27:10. Tepat sekali Mazmur itu berbicara tentang pengalaman hidupku. Sharing pengantar dengan pembimbing sebagai perkenalan siapa diriku dan bagaimana pergulatan-pergulatan yang aku alami dalam perjalanan hidupku, kumulai dengan ayat itu. Jujur Tuhan, sesungguhnya aku gelisah pada awalnya. Aku ragu, sanggupkah aku bertahan 1 jam hening di hadapan-Mu, 4 kali sehari? Kau tidak bercanda, kan Tuhan? Soalnya aku tidak pernah meditasi semenjak di Novisiat dulu, sekitar 9 tahun lalu. Aku sungguh cemas.
Namun karya rahmat Tuhan sungguh luar biasa. Berbekal sebuah niat sederhana terinspirasi oleh renungan misa pembuka retret, aku mengawali hari-hari penuh rahmat ini dengan sebuah kerinduan dan harapan: aku ingin mengalami kasih Allah di kedalaman hatiku dan pada saat yang sama aku menemui diriku yang rapuh penuh dosa. Engkau mengajakku untuk bertolak ke tempat yang dalam.
Kuakui bahwa ini tidak mudah bagiku, Tuhan. Perjalananku menuju ke keheningan-Mu bagaikan sebuah biduk tanpa cahaya mercu suar. Aku kehilangan arah, aku gelisah, aku mengalami desolasi. Aku menyadari bahwa perjalanan terpanjang di dunia ini adalah perjalanan menuju diri sendiri. Aku menyadari kerapuhanku. Aku tidak bisa hening, Tuhan. Ada banyak hal yang berkeliaran di kepalaku. Namun, Engkau tidak kalah akal. Melalui rahmat-Mu, Engkau berkarya menuntunku. Dengan sebuah ajakkan, “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian dan beristiratlah seketika” (Mark 6:31), aku pun berhenti dari segala kesibukanku. Aku membiarkan otakku beristirahat dari semua hal yang berkeliaran di dalamnya. Aku mau “berlibur bersama Tuhan” untuk mengalami keindahan gunung Tabor-Nya. Aku mau menyepi untuk berbagi bersama-Mu, Tuhan.
Di sebuah taman yang hening, pada sebuah bangku, aku duduk bersama-Mu dan kita mulai berbagi sebagai sepasang sahabat yang saling mengasihi. Aku mulai menceritakan semua pengalaman hidupku, tentang suka dan duka, tawa dan air mata, penghiburan dan pergulatan-pergulatanku. Engkau setia mendengarkanku. Kadang Engkau memotong ocehanku dengan kata-kata peneguhan. Engkau mengatakan bahwa kematian ibuku adalah anugerah terindah di jalan hidupku. Engkau menyinggung tentang cinta ayahku yang begitu besar kepadaku. Engkau mengatakan bahwa ayahku terlalu baik sehingga Tuhan mengajari dia cara untuk mendidikku. Engkau pun berani menoreh lukaku. Engkau mengatakan bahwa mataku yang juling adalah tanda dalam diriku sebagai bagian dari rencana Tuhan. Ah….Tuhan, Engkau memang sahabatku yang paling jujur.
Aku percaya, Tuhan bahwa semua yang terjadi dalam hidupku adalah rancangan Allah. Aku menyadari bahwa kehidupanku adalah anugerah dari Allah, aku diciptakan karena cinta-Nya. Oleh karena itu, Dia memeliharaku dengan penuh cinta kasih mulai dari kandungan ibuku. Aku adalah hadiah-Nya yang terindah. Hadiah yang diberikan kepada diriku sendiri, orang-orang terdekatku, juga sesamaku sebagaimana mereka adalah hadiah bagiku. Sebagai manusia, aku diciptakan dengan tujuan keselamatan. Aku diciptakan untuk memuji, menghormati, serta mengabdi Allah dan dengan itu menyelamatkan jiwaku. Merenungkan hal ini membuat aku merasa malu. Aku menyadari bahwa dalam hidup, aku kadang terbawa pengaruh duniawi untuk memuliakan diri dan mengejar popularitas diri. Hidupku dangkal. Aku menggunakan sarana-sarana yang ada (HP, internet, laptop) untuk kemuliaan diri dan pemenuhan kerinduan-kerinduanku. Kadang aku menjadi begitu terikat dengan sarana-sarana itu.
Setelah aku menyadari bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Allah dan untuk Allah, akhirnya aku menemukan cara-cara sederhana untuk memuliakan Dia. Aku mengagumi keagungan ciptaan Tuhan melalui alam ciptaan-Nya. Aku belajar tentang ketabahan melalui pohon cemara yang tetap tegar walau di setiap detik kehidupannya diterpa angin, hujan dan terik matahari. Tanaman parasit yang melekat di pohon pinus memberi inspirasi kepadaku bahwa dalam hidup, aku hendaknya selalu bergantung kepada Tuhan. Pada setumpuk sampah yang berserakan di sudut taman, aku disadarkan bahwa perziarahan hidupku pada saatnya akan berakhir. Seperti sampah-sampah itu, aku hanya akan menjadi seonggok daun kering tak bernyawa. Bergunakah aku tatkala hidupku masih sebagai “daun hijau” pada pohon, dimana aku bernafas, akan menjadi pertanyaan reflektif bagi hidupku. Aku terpesona pada cara Tuhan mendandani tumbuh-tumbuhan: warna daun dan kembangnya yang selalu serasi, ada kombinasi warna dengan bintik-bintik kecil yang begitu indah. Dialah yang membatiknya. Bersama alam ciptaan-Nya, aku ingin memuliakan Allah dengan cara-cara sederhana itu agar hidupku tidak sibuk dengan kemuliaan diriku sendiri.
Tuhan, ketika ingin berbagi dengan-Mu tentang pengalaman panggilanku, aku menyadari bahwa panggilan hidupku melewati sebuah proses yang panjang dengan berbagai refleksi. Aku mengagumi cara-Mu memanggilku melalui seorang teman yang ketika di SD dulu, dia adalah musuhku. Walaupun dulu kami sering bertengkar tetapi Engkau memakainya untuk memanggilku dengan namaku sendiri. Seperti Petrus, Engkau memanggilku dengan namaku yang baru: Walterus. Aku menjawab YA terhadap panggilan-Mu dan memutuskan untuk mengikuti-Mu dengan berbagai konsekuensi yang harus dihadapi.
Pada liburanku bersama-Mu di hari yang ke-5, aku mengalami pengalaman yang sungguh luar biasa. Merenungkan firman-Mu tentang Sabda Bahagia dan Khotbah di Bukit membawaku pada sebuah kesadaran yang menakjubkan. Aku merasakan bahwa sabda-sabda-Mu itu sungguh-sungguh hidup. Setiap ayat berbicara sesuatu tentang kehidupanku. Ada yang meneguhkan, menguatkan, menegur, menasihati, menantang dan mengingatkan. Ada juga yang mengecewakan, membuat aku merasa sedih dan malu. Dengan rendah hati aku mengakui bahwa sabda-sabda-Mu yang tertulis dalam kitab suci bukanlah kumpulan huruf-huruf mati yang membentuk kalimat-kalimat kaku dari rangkaian kata-kata tak bernyawa melainkan sabda-sabda itu sungguh-sungguh hidup dan berbicara tentang semua konteks kehidupanku.
Tuhan, aku tahu bahwa dengan memutuskan untuk mengikuti-Mu berarti aku harus tinggal bersama-Mu, melayani seperti Engkau dan berkarya bersama-Mu. Bapa telah melengkapi diriku dengan bakat-bakat dan kemampuanku, kelebihan-kelebihan dan kekuatanku. Aku ingin mempersembahkan seluruhnya demi kemuliaan nama-Mu. Aku menyadari bahwa tuntutan pengosongan diri dalam mengikuti-Mu adalah sesuatu yang tidak mudah untuk kuhayati. Aku manusia lemah yang tak pernah luput dari dosa. Ada sederetan daftar kelemahan dan kerapuhan yang perlu kubenahi. Ada ketakutan-ketakutan akan “Yerusalemku” yang menjadi realitas kehidupan di dunia, komunitas dan tempat tugasku. Akankah aku setia dan komitmen dengan niat-niat yang sudah kubuat saat berlibur bersama-Mu di gunung Tabor ini? Engkau tak gentar memasuki kota Yerusalem untuk menyongsong penderitaan-Mu kiranya akan menjadi peneguh langkahku di realitas “Yerusalemku”.
Engkau mengajariku arti sebuah pelayanan penuh kasih melalui peristiwa pembasuhan kaki para murid-Mu pada malam perjamuan terakhir. Sebuah perwujudan cinta kasih yang membawaku pada pengalaman diampuni dan disembuhkan. Engkau mengajakku untuk menghadirkan semua orang yang pernah menjadi “Yudas” dalam kehidupanku. Satu per satu sambil membasuh kakinya masing-masing, aku mengampuni dan memaafkan mereka. Sungguh Tuhan, ini sebuah pengalaman penyembuhan yang mendamaikan.      
Pada liburan kita di hari yang ke-7, Engkau membawaku ke puncak Golgota, tempat dimana Engkau disalibkan untuk menebus dosa-dosa kami umat manusia. Aku kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan cinta-Mu yang Engkau tunjukkan dari salib suci-Mu. Aku hanya bisa memandang-Mu, Tuhan. Salib-Mu menyingkapkan tiga rahasia yang sungguh agung: tentang penyerahan diri-Mu yang total, tentang cinta-Mu kepada umat manusia dan tentang kesetian-Mu kepada kehendak Bapa. Aku tahu Tuhan bahwa Engkau disalibkan bersama dunia yang menangis oleh ketidakadilan, keserakahan, korupsi, diskriminasi, peperangan, terorisme dan pengungsian. Ada penderitaan orang-orang di rumah sakit, mereka yang berkebutuhan khusus dan jeritan mereka yang tak mampu bersuara. Aku melihat penderitaan orang-orang terdekatku, aku mendengar tangisan orang-orang yang dipercayakan kepadaku, juga aku mendengar tangisan hatiku oleh deraan tangtangan dan pergulatan-pergulatan hidupku. Aku menyadari bahwa Engkau disalibkan bersama jeritan kami.
Namun, Tuhan di tengah penderitaan-Mu yang mahadasyat, Engkau masih mempunyai seorang ibu yang setia menemani-Mu di jalan salib-Mu. Engkau mendapat kekuatan dari sang Bunda walaupun yang lain meninggalkan-Mu. Sesungguhnya aku iri dengan-Mu. Pada jalan salib kehidupanku, aku berjuang sendiri. Tak ada seorang ibu yang membangunkanku ketika aku jatuh. Tak ada seorang ibu yang mengusap air mataku ketika aku menangis. Tak ada seorang ibu yang menghiburku ketika aku ditinggalkan. Dan tak ada seorang ibu yang menguatkanku ketika aku tak berdaya. Tetapi aku yakin semua yang terjadi dalam hidupku adalah rencana dan kehendak-Mu. Dengan memandang salib-Mu, aku mendapatkan kekuatan untuk mengarungi hidupku.
Akhirnya, kita sampai di penghujung waktu liburan kita. Hatiku berkobar-kobar penuh gembira karena aku mengalami kehadiran-Mu. Aku bersukacita bersama Maria Magdalena dan dua murid Emaus karena kami melihat Tuhan yang bangkit. Aku akan “turun gunung”, kembali ke “Yerusalemku”. Pengalaman-pengalaman konsolasi selama tinggal bersama-Mu di keheningan gunung Tabor ini akan menjadi kado untuk dibawa pulang. Aku akan membagikannya kepada siapapun yang aku jumpai. Aku siap diutus untuk membawa Kabar Gembira ini kepada dunia. Semoga bersama dan di dalam nama-Mu aku bisa menjadi Kabar Gembira itu sendiri. Amin.

Rumah Khalwat Roncalli-Salatiga
11 September 2015
Readmore → Berlibur Bersama Tuhan

Monday, 31 August 2015

Legenda Rumah Merah

Konon katanya, keberadaan sebuah “rumah merah” yang terletak di salah satu taman di Rumah Khalwat Roncalli Salatiga ada legendanya. Entah dari siapa yang memulai cerita itu dan bagaimana legendanya kami sendiri tidak tahu. Dan kami tidak perlu tahu karena keberadaan kami di tempat ini bukan untuk mencari tahu tentang legenda rumah merah itu, bukan untuk itu.
Kami berada di sini untuk mengikuti Kursus Persiapan Profesi Kekal. Pada KPPK gelombang II ini diikuti oleh 48 peserta dari 17 tarekat. Kami datang dari berbagai daerah di Indonesia: dari Jawa, Sumatra, Kalimantan, Nusa Tenggara, Ambon dan Papua. Ada juga yang berasal dari negara tetangga yaitu Timor Leste dan dari negeri upin dan ipin. Kami datang dengan satu tujuan untuk mengikuti Kursus Persiapan Profesi Kekal. Kami tinggal dan ada bersama sebagai satu keluarga besar yang menamakan diri sebagai kaum berjubah dan para pelaku hidup bakti. Dalam sebuah rumah yang nyaman dan sejuk serta alam yang asri, kami mendapat pelayanan yang tulus dari seorang pastor, para bruder, para suster dan bapak-ibu pegawai.
Berbagai proses kami alami: perkuliahan di kelas, sharing dan pendalaman dalam kelompok maupun bersama pendamping kami masing-masing, latihan doa, olahraga, piknik, makan dan rekreasi bersama dan semua pengalaman kebersamaan ini kami satukan dalam perayaan Ekaristi Kudus. Harapannya bahwa semua proses yang kami alami di sini dapat menempa kami menjadi pribadi-pribadi tangguh yang dapat diandalkan dalam tarekat kami masing-masing.
Melalui buku harian kami ditunjukkan sebuah cara yang sederhana untuk mengungkapkan semua rasa dan pergulatan harian kami pada tempat yang paling ideal. Melalui spiritualitas doa, kami diajari cara-cara praktis membangun relasi dengan DIA yang memanggil kami. Doa adalah hadir di hadapan DIA yang dicintai dan mencintai kami dengan semua perasaan dan pengalaman yang kami alami. Melalui sejarah hidup bakti kami diingatkan kembali pada sejarah pendirian tarekat kami masing-masing dengan keprihatinan awal pendiri yang kini menjadi keprihatinan generasi kami juga. Tentu tetap disesuaikan dengan perkembangan dan tuntutan zaman tanpa harus mengabaikan relevansinya sehingga keprihatinan awal pendiri kami tetap menjadi roh yang menghidupkan karya pelayanan kami saat ini.
Kami sadar bahwa kami berasal dari keluarga masing-masing yang mempunyai sejarah dan kisahnya sendiri-sendiri. Ada yang penuh canda dan tawa oleh keutuhan cinta dan perhatian orang tua. Tetapi ada juga yang sejarah hidupnya penuh derita dan deraian air mata lantaran ditinggal ayah, ibu dan orang-orang terdekat lainnya. Ada juga yang kisah hidupnya diwarnai dengan berbagai pergulatan dan beragam pengalaman traumatis. Menyikapi ini semua kami dibantu dalam proses “healing” untuk mengakui keberadaannya dan menerimanya sebagai bagian dari cerita hidup kami. Kami ingin berdamai dengan masa lalu kami, kami ingin sehat, sembuh dan menjadi pribadi yang utuh secara jasmani, mental dan spiritual.
Pemahaman yang baik terhadap seksualitas dan spiritualitas menjadi penting bagi kami supaya hidup kami menjadi utuh dan seimbang seperti Yesus yang kami ikuti. Hal ini juga sejalan dengan penghayatan hidup komunitas dan kaul-kaul kami. Kami dituntun untuk menata kekhasan hidup kami ini agar semakin menyerupai DIA yang menjadi idola kami.
Dengan melihat kembali perjalanan hidup kami, pada momen-momen dimana kami mengalami perjumpaan dengan Allah yang penuh kasih secara mendalam, yang menjadi pengalaman mistik dan landasan fundamental dalam kesaksian profetik atau kenabian kami, kami semakin mantap akan keputusan mana yang akan kami pilih untuk kelanjutan hidup panggilan kami. Tentu kami perlu melewati proses discernment dengan melihat seluruh pengalaman konsolasi dimana kami mengalami Allah secara nyata juga pengalaman desolasi, pengalaman dimana kami mengalami Allah yang seolah-olah jauh, Allah yang dialami secara tersamar.
Semua proses ini sangat membantu kami untuk memutuskan dan memilih yang terbaik. Apakah kami dengan mantap melangkah ke altar Tuhan, membawa diri dan seluruh keberadaan kami untuk dipersembahkan sebagai kurban yang hidup untuk kemuliaan nama Tuhan. Ataukah kami harus berpaling dari jalan ini untuk melangkah ke jalan yang lain.
Kami perlu dengan bebas, sadar, tahu dan mau untuk melilih satu yang terbaik agar kami bisa menjadi religius yang penuh sukacita dalam cara hidup dan karya pelayanan kami, bukan menjadi religius yang seperti orang yang baru pulang dari pemakaman atau menjadi religius yang ledra-ledre. Kami yakin bahwa Allah Tritunggal, Bunda Maria dan Santo Yosef, para pelindung, pendiri dan pemimpin kami, orang tua kami di rumah atau yang sudah berada di surga, sanak keluarga dan sahabat kenalan kami serta sudara dan saudari kami sekongregasi akan meneguhkan keputusan kami. Kami percaya bahwa Tuhan akan mengantar kami pada sebuah keputusan yang terbaik bagi kehidupan kami karena Tuhan adalah Allah kami yang tidak pernah kalah akal. Untuk itu kami ingin mengungkapan rasa syukur dan terima kasih kami kepada-Nya melalui pujian yang berjudul “Thank You Lord”, song by Don Moen.
Readmore → Legenda Rumah Merah

Wednesday, 22 July 2015

Spiritualitas Sepak Bola


Pengantar
Sepak bola adalah cabang olahraga yang paling popular di dunia saat ini. Memasuki abad ke-21, olahraga ini telah dimainkan oleh lebih dari 250 juta orang di 200-an negara. Olahraga yang telah dimulai sejak abad ke 2-3 SM oleh dinasti Han di negeri Cina ini digandrungi oleh hampir semua lapisan masyarakat, kelompok usia, pria maupun wanita. Mereka berpatisipasi dalam dunia sepak bola entah sebagai pemain, pendukung, peminat, penonton secara langsung atau melalui televisi, pendengar radio atau pembaca media cetak.
Tulisan ini tidak bermaksud untuk memaparkan sejarah ataupun perkembangan sepak bola. Tulisan ini merupakn uraian sederhana dari gagasan-gagasan reflektif tentang nilai-nilai yang bisa dimaknai dalam olahraga sepak bola. Ulasan spiritualitas sepak bola ini akan ditinjau dari tiga aspek yang terkandung di dalamnya sebagaimana spirit kegiatan Refreshing Tahunan para Frater BHK pada Desember 2014, yaitu Olah raga, Olah rasa dan Olah mental beserta hubungannya dengan komunitas hidup membiara.

Olah Raga
Seperti olahraga pada umumnya, sepak bola juga merupakan sebuah aktivitas fisik yang efektif dalam mengolah raga atau tubuh kita menjadi lebih sehat. Raga atau tubuh jasmani kita yang menjadi lelah dan kurang bersemangat oleh karena berbagai pekerjaan terutama yang menguras pikiran perlu diolah kembali melalui sepak bola. Olahraga ini adalah salah satu upaya alternatif untuk membuat tubuh kita menjadi lebih sehat, segar dan bersemangat.
Menurut para spesialis ortopedi, dengan melakukan olahraga sepak bola secara tertatur, tubuh kita akan memiliki kepadatan tulang 1,3 lebih tinggi. Kepadatan tulang yang tinggi meminimalisir terjadinya osteoporosis yang membuat badan kita menjadi bungkuk. Hal ini berarti, olahraga sepak bola yang dilakukan secara teratur dapat mengurangi dampak pembungkukan badan yang disebabkan oleh osteoporosis.
Sepak bola juga dapat meningkatkan kesegaran tubuh, fleksibilitas dan kekuatan otot. Bermain sepak bola meningkatkan kekuatan otot kaki, paha, perut dan dada. Otot yang terus dilatih membuat tubuh menjadi lebih sehat, fleksibel, segar dan berdaya tahan kuat sehingga tidak mudah terserang virus penyakit.
Bagi yang ingin menjaga badannya agar tetap ideal, olahraga sepak bola bisa menjadi salah satu pilihan solusi. Permainan sepak bola merupakan kombinasi gerakan olahraga aerobic. Dua gerakan yang mutlak dilakukan dalam permainan sepak bola adalah lari dan lompat. Kedua gerakan ini cukup efektif dalam membakar lemak tubuh untuk menghindari kegemukan dan membuat badan tetap ideal. Lari dan lompat juga membantu jantung supaya bisa bekerja secara lebih efisien.    

Olah Rasa
Olah rasa merupakan teknik dalam mengolah atau mengontrol dinamika emosi atau perasaan-perasaan. Di dalam permainan sepak bola kita pasti akan mengalami berbagai perasaan. Misalnya, senang karena menang atau sedih dan kecewa karena kalah, bangga karena menciptakan gol atau karena permainan kita dinilai baik, marah karena dikasari pemain lawan atau juga jengkel karena teman dalam tim kita bermain kurang baik, dan sebagainya. Semua perasaan ini normal dan baik untuk dialami lantaran kita adalah manusia yang berpesaraan. Menjadi tidak baik jika perasaan-perasaan itu membawa kita pada dampak negatif. Misalnya, terjadi perkelahian karena benturan yang terjadi dalam permainan. Kita mereaksi benturan bukan dalam tindakan yang sportif tetapi melibatkan aksi kekerasan fisik. Di sisi lain misalnya karena kekesalan atau kekecewaan yang kita rasakan oleh karena permainan teman dalam tim kita kurang baik, kita menjadi sangat marah lalu memperlihatkan reaksi-reaksi negatif. Reaksi-reaksi negatif yang diperlihatkan entah secara verbal mau non-verbal dapat mempengaruhi mental orang lain. Ia akan merasa tertekan, takut, malu dan kurang bersemangat.
Oleh karena itu, dibutuhkan kedewasaan dan kematangan emosional dalam menyikapi setiap gesekan atau benturan serta masalah-masalah yang terjadi di lapangan dalam permainan sepak bola. Menurut Hurlock (1990), individu yang dikatakan matang secara emosional yaitu:
a)   Dapat melakukan kontrol diri yang bisa diterima secara sosial. Individu yang emosinya matang mampu mengontrol ekspresi emosi yang tidak dapat diterima secara sosial atau membebaskan diri dari energi fisik dan mental yang tertahan dengan cara yang dapat diterima secara sosial.
b)  Pemahaman diri. Individu yang matang, belajar memahami seberapa banyak kontrol yang dibutuhkannya untuk memuaskan kebutuhannya dan sesuai dengan harapan masyarakat.
c)    Menggunakan kemampuan kritis mental. Individu yang matang berusaha menilai situasi secara kritis sebelum meresponnya, kemudian memutuskan bagaimana cara bereaksi terhadap situasi tersebut.
Senada dengan pendapat di atas Covey (2005), mengemukakan bahwa kematangan emosi adalah kemampuan untuk mengekspresikan perasaan yang ada dalam diri secara yakin dan berani, diimbangi dengan pertimbangan-pertimbangan akan perasaan dan keyakinan individu lain.
Berdasarkan gagasan-gagasan di atas dapat disimpulkan bahwa kematangan emosi seseorang ditentukan oleh pemahaman diri yang baik dan kemampuan mengontrolnya serta kapabilitas dalam mengkritisi situasi dan mengekspresikannya secara bijak agar dapat diterima orang lain dalam kehidupan bersama. Kita dapat mengolah dan melatih diri melalui olah rasa dalam permainan sepak bola.

Olah Mental
Seperti yang telah diuraikan di atas, olahraga sepak bola membawa pengaruh baik dalam meningkatkan kesehatan tubuh (fisik) maupun emosional seseorang. Aktivitas fisik yang dilakukan dalam sepak bola juga memberi dampak positif dalam menyembuhkan masalah kesehatan mental dan stres. Setiap aktivitas fisik memproduksi endorfin yaitu molekul yang berfungsi sebagai obat penenang dan mengurangi rasa sakit karena ketegangan atau stres.     Secara lengkap dampak positif dari olahraga secara umum berdasarkan temuan Daniel M. Landers, professor ilmu kesehatan fisik dan olahraga dari universitas Arizona dapat diuraikan seperti berikut:
a)    Olahraga dapat mengurangi stres
Berolahraga dapat membantu kita mengurangi kegelisahan hati dan bahkan dapat melawan kemarahan. Ketika jantung kita bekerja pada saat berolahraga, maka otomatis konsentrasi pikiran tidak akan terfokus pada masalah. Selain dapat mengalihkan pikiran, aerobik yang rutin juga dapat meningkatkan ketahanan kardiovaskular (berkaitan dengan kesehatan jantung dan pembuluh darah), sehingga nantinya kita dapat bersikap tidak terlalu berlebihan dalam menyikapi suatu masalah. Aktifitas yang terbukti efektif dalam melawan ketegangan otak adalah aerobik seperti berjalan kaki, bersepeda, renang, lari dan lompat.
b)    Olahraga dapat meningkatkan kekuatan otak
Kegiatan fisik yang dilakukan secara rutin dan teratur bisa meningkatkan daya reaksi, konsentrasi, kreativitas dan kesehatan mental kita. Hal ini terjadi karena tubuh memompa lebih banyak darah sehingga kadar oksigen dalam peredaran darah juga meningkat sehingga mempercepat pemasukan darah ke otak. Para ahli berpendapat, bahwa otak yang cukup mendapat asupan darah berdampak pada meningkatnya reaksi fisik dan mental seseorang.
c)    Olahraga dapat melawan penuaan
Hasil penelitian membuktikan bahwa dengan hanya berolahraga ringan seperti berjalan kaki saja dapat membantu tubuh mencegah penurunan daya kerja otak bagi para lanjut usia. Semakin lama dan seringnya kegiatan berjalan kaki ini dilakukan maka ketajaman pikiran dan daya ingat juga akan semakin membaik.
d)    Olahraga dapat meningkat perasaan bahagia
Jalan menuju kebahagian secara alami dapat diraih dengan menggerakkan tubuh secara rutin. Olahraga terbukti manjur dalam meningkatkan hormon penumbuh rasa bahagia dalam otak kita, seperti adrenalin, serotonin, dopamin dan endorphin, yang merupakan pembunuh nomor satu penyakit hati. Olahraga juga dapat mengurangi rasa bosan serta meningkatkan kualitas dan kuantitas tidur.
e)    Olahraga dapat meningkatkan kepercayaan diri
Dewasa ini rasa percaya diri dapat dicapai tidak hanya dengan mengandalkan keindahan fisik saja. Sebuah studi kasus di AS membuktikan bahwa para remaja yang aktif berolahraga memiliki kadar kepercayaan diri yang sama kuat dengan teman-teman mereka yang memiliki tubuh dan penampilan indah. Kemantapan diri ini terletak pada hasil yang mereka dapatkan, yakni citra tubuh yang sehat dan kekuatan fisik yang prima.
Tubuh yang sehat membawa hidup dalam ketenangan. Ada keharmonisan dan damai yang mengalir dari dalam diri. Olahraga yang teratur akan memberikan kesehatan tubuh yang baik dan juga ketenangan pikiran (mental) serta pencapaian kemampuan intelek yang lebih tinggi. Sepak bola adalah satu olahraga yang membawa kita pada kesehatan tubuh, emosi dan mental.

Spiritualitas Sepak Bola dan Hidup Membiara
Dalam hidup membiara, spiritualitas sepak bola berperan sebagai faktor lain yang turut mendukung para pelaku hidup bakti dalam menjalani hidupnya. Berbagai hal yang telah dikemukakan di atas jika diperhatikan dan dijalani dengan sungguh-sungguh dapat memberi andil untuk menjaga kesehatan mereka baik secara jasmani, hidup rasa (emosi) maupun mental. Hal ini menjadi penting karena jika tubuh secara utuh (mencakup raga, rasa dan mental) dalam keadaan sehat, karya pelayanan yang diembani dapat dijalani dengan baik, tanggung jawab, semangat dan penuh sukacita.
Selain itu, ada hal-hal lain yang menjadi bagian dari spiritualitas sepak bola yang juga berkontribusi bagi kehidupan membiara di antaranya sebagai berikut:
a)    Latihan kepemimpinan dan kerja sama
Sepak bola adalah permainan tim. Melalui permainan sepak bola, kita melatih diri berkerja dalam tim (teamwork). Di dalam sebuah tim yang ideal pasti ada seorang pemimpin dan anggota yang dipimpin. Seorang pemimpin dalam dunia sepak bola disebut kapten tim, bertugas sebagai pemimpin kelompok, mengatur, mengkoordinir dan membagi tugas anggota tim, menjadi panutan dalam hal tanggung jawab dan disiplin. Adanya kerja sama yang baik dan jujur, keterbukaan dan saling mendengarkan antara pemimpin dan anggota untuk menciptakan sebuah tim solid dan berwibawa. Model spiritualitas di lapangan sepak bola ini bisa dibawa ke dalam kehidupan bersama dalam komunitas religius.
b)    Menumbuhkan semangat persaudaraan
Dalam komunitas hidup membiara ada berbagai momen yang memungkinkan tiap anggota terlibat bersama, misalnya yang paling esensial seperti doa, makan dan rekreasi. Ada juga karya perutusan yang dijalani bersama. Sepak bola juga adalah salah satu aktivitas dalam komunitas religius yang dilakukan bersama saudara yang lain. Olahraga ini mampu menumbuhkan semangat persaudaraan karena dalam bermain setiap anggota bisa saling melayani, saling mendukung, saling mengingatkan; ada kerendahan hati untuk mengakui kesalahan yang dilakukan; ada tawa canda, senda gura, kegembiraan dan sukacita yang mengalir secara alami. Semua hal itu dapat menguatkan ikatan tali persaudaraan sebagai satu keluarga religius.
c)    Sarana sublimasi
Dalam psikologi, sublimasi ialah suatu proses kejiwaan berupa penggunaan aktivitas pengganti untuk memuaskan motif-motif yang tidak tersalurkan dengan cara yang dapat diterima secara sosial. Atau secara sederhana dapat dikatakan sublimasi merupakan upaya menyalurkan energi negatif melalui aktivitas yang positif dan bermanfaat.
Para pelaku hidup bakti oleh karena kesibukannya menjalani tugas perutusan maupun keseharian dalam hidup berkomunitas dapat pula mengalangi kepenatan, bosan, jenuh, lesu dan stres. Semua energi negatif tersebut dapat disalurkan (dibuang) di lapangan melalui permainan sepak bola sehingga tubuh menjadi lebih semangat, segar, sehat dan terhindar dari tumpukan energi-energi negatif yang tidak baik untuk kesehatan mental.
d)    Latihan bersosialisasi
Tak dapat dipungkiri bahwa kehidupan membiara berpotensi membangun hidup bersama dengan orang lain (umat/masyarakat). Permainan sepak bola yang adalah permainan tim membantu meningkatkan kemampuan bersosialisasi. Artinya, dalam olahraga ini tersedia kesempatan untuk belajar berinteraksi dengan orang lain, mengenal dan dikenal orang lain, memiliki banyak teman, berkomunikasi dengan mereka dan berkolaborasi sebagai sebuah tim. Hal-hal tersebut sangat berguna bagi para pelaku hidup bakti sebagai modal untuk membangun relasi dengan orang-orang di luar biara khususnya orang-orang yang mereka layani maupun yang berkarya bersama mereka.
Itulah nilai-nilai yang bisa dipetik dan dimaknai dalam permainan sepak bola. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa spiritualitas sepak bola turut memberi sumbangsih bagi kehidupan membiara sejauh para pelaku hidup bakti itu mau dan mampu memaknainya.

Penutup
Olahraga sepak bola sangat bermanfaat bagi kesehatan jasmani maupun rohani manusia. Tiga aspek yaitu raga, rasa dan mental sebagai satu kesatuan yang utuh dalam diri seorang individu dapat diolah melalui olahraga yang sangat popular ini. Kecerdasan mengolah ketiga aspek tersebut penting dimiliki agar spiritualitas sepak bola bermanfaat bagi kesehatan jiwa raga manusia. 
Bagi komunitas religius, olahraga sepak bola juga memberi andil sebagai sarana membangun hidup bersama dan persaudaraan yang lebih kuat, sehat dan penuh sukacita. Bagaimana cara mengolahnya, kembali kepada masing-masing pribadi yang bersangkutan. Perlu juga diberi penekanan bahwa semua hal positif yang diperoleh dari olahraga sepak bola bisa berubah menjadi masalah jika dilakukan tanpa dilandasi sikap tanggung jawab dan tahu batas. Oleh karena itu, dibutuhkan kedewasaan dan kerendahan hati; tahu batas waktu, sadar akan kekuatan fisik yang dimiliki; perlu istirahat jika sudah lelah sehingga selalu ada spirit baru untuk aktivitas-aktivitas dan tugas-tugas lain di komunitas setelah olahraga sepak bola.
Readmore → Spiritualitas Sepak Bola

Sunday, 12 July 2015

Penjubahan

10 tahun lalu, tepatnya pada 12 Juli 2005. Hari itu adalah hari bersejarah dalam perjalanan hidup panggilan saya sebagai seorang Frater Bunda Hati Kudus. Pada hari itu saya memulai masa novisiat, tahap kedua masa pembinaan untuk menjadi seorang biarawan. Sebelumnya saya telah melewati tahap pembinaan awal selama setahun di Postulat yang bertempat di Maumere-Flores.
Masa novisiat berlangsung selama dua tahun yang diawali dengan serangkaian seremoni di antaranya, penjubahan (mengenakan busana biara), penyerahan konstitusi (sebuah buku yang berisi pedoman dan tata cara hidup sebagai seorang frater) serta pemberian nama biara, dari Arianus Adam Raja Oja (nama asli) menjadi Frater Maria Walterus, BHK (nama biara). Upacara tersebut dilaksanakan di Novisiat Frater BHK-Malang dalam sebuah Perayaan Ekaristi kudus bersama para frater dan umat yang diundang.
Jubah atau busana biara yang dikenakan berwarna putih dengan sabuk putih sebagai ikat pinggang atau disebut juga single. Jubah putih selain menjadi tanda kekhasan atau identitas kongregasi juga bermakna sebagai simbol penyerahan diri untuk hidup suci dan kudus bagi Allah. Sedangkan dengan mengenakan ikat pinggang (single) setiap frater diharapkan untuk menghidupi spiritualitas kehambaan seperti yang ditunjukkan oleh Tuhan Yesus dalam upacara pembasuhan kaki para murid-Nya pada malam Perjamuan Terakhir. Teladan pelayanan Yesus ini adalah semangat yang hendak dihayati oleh setiap frater yang terpanggil menjadi pengikut-Nya.
Adapun nama Walterus yang saya pilih sebagai nama biara saya adalah sebuah nama yang saya ambil dari nama seorang frater Belanda, yaitu Frater Maria Walterus (P. F. J. van Hoesel). Frater ini telah meninggal pada 31 Maret 2004. Alasan saya memilih namanya dilatarbelakangi sebuah harapan agar kelak saya bisa setia sampai mati sebagai seorang frater seperti dia. Saya juga ingin meneladani cara hidupnya sebagai seorang guru yang sederhana, yang sebagian besar hidupnya dipersembahkan untuk mendapingi kaum muda.
Di hari bersejarah itu akan menjadi sangat istimewa apabila dihadiri oleh orang-orang terdekat terutama orang tua. Tentu berdasarkan pertimbangan jarak dan biaya perjalanan (transportasi). Saya secara pribadi tidak terlalu kecewa dengan ketiadaan orang tua atau pun handai taulan yang turut hadir dalam upacara itu. Namun saya merasakan bahwa ada sesuatu yang kurang dalam momen istimewa di hari bahagia itu. Maksud hati ingin berbagi kebahagiaan bersama keluarga terutama orang tua, khususnya ibuku, namun apa daya ia telah tiada. Melalui doa dalam kesyahduan kukirimkan rasa bahagiaku bagi dia yang di atas sana sembari memohon doa dan restunya bagi langkah hidup panggilanku selanjutnya. Dan kepada Tuhan kupanjatkan syukurku atas rahmat panggilan suci ini.

Malang, 12 Juli 2015
Readmore → Penjubahan