Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Friday, 2 February 2018

SEPASANG BENIH AWAL DI LADANG MISI

Malam itu, perasaanku tak karuan. Di malam hari kedua Februari 1928 itu, aku takut dan gelisah sampai sulit tidur. Perayaan malam perutusan yang dihadiri sesama saudaraku berlangsung meriah, namun tak kuasa mengusir gundah di hatiku. Suhu kamarku terasa hangat berkat penghangat ruangan yang bekerja sepanjang waktu. Di luar, udara terasa dingin menusuk tulang. Titik-titik salju sisa musim dingin masih menempel di daun-daun dan reranting cemara. "Ayah, inilah konsekuensi pilihan hidupku. Tapi aku akan mampu menjalaninya sebagaimana janjiku pada ibu saat aku meninggalkan rumah dulu!" Aku berkata pada diriku sendiri. Di sisi jendela yang sengaja kubuka aku menerawang. Di depan mataku hamparan lampu malam indah dipandang. Gedung-gedung megah pencakar langit terlihat kokoh membingkai kota. Daerah yang temasuk dalam wilayah Utara itu tak pernah mati oleh geliat penghuninya.
"Pada kota ini jejak rinduku akan kutinggalkan," gumamku. Aku menakar seberapa besar rasa itu akan kutanggung tatkala jarak memisahkan aku dengan tanah kelahiranku yang telah berjasa menumbuhkan semangat hidupku. Iya, jiwa jejakaku digelorakan di tanah ini. Itu juga yang mendorong nyali lelakiku menyala dan mantap menjawab "Ya" pada tugas perutusan yang besok lusa akan membawa ragaku pergi jauh, mengarungi samudera, menyeberangi lautan menuju sebuah daerah yang hanya kutahu melalui peta tua di dinding perpustakaan.
"Aku adalah pemuda yang menyukai petualangan. Bukankah itu membanggakan? Bahwa di usiaku yang masih hijau, 32 tahun, aku telah mendapatkan kepercayaan yang besar ini!" Aku menguatkan diriku. Ada rasa gembira dan bangga karena generasi mendatang akan mengenang malam ini sebagai malam Misi yang salah seorang tokoh di dalamnya ada namaku. Walaupun ada rasa sedih karena harus berpisah dengan orang-orang tercinta, tanah air, dan rekan-rekan sepanggilan, namun kata-kata hiburan itu kemudian menjadi obat penenang yang membawa diriku ke dunia mimpi. Kuakhiri malam perpisahan itu dalam antusiasme yang menyelimuti lelapku.
Jan Pieterzoon Coen terlihat kokoh bersandar di dermaga. Empat hari setelah malam perutusan, kami meninggalkan Utrecht menuju Genua menggunakan kereta api. Sebelumnya, Uskup Agung Utrecht, Mgr. van de Wetering mempersembahkan Misa mulia dan berkat apostoliknya kepada kami di kapel Rumah Induk. Dalam perayaan itu Mgr. Wetering juga memberi kami salib Misi. Bagiku yang masih sangat muda ini, perhatian dan dukungan moril Yang Mulia sungguh menguatkan.
Dari pelabuhan di wilayah Selatan itu, perjalanan ke negeri Timur jauh yang memakan waktu berminggu-minggu dimulai. Saat sirene kapal terdengar menggetarkan, riuh hatiku yang beberapa malam sebelumnya telah redah, kini bergemuruh. Jantungku berdebar kencang. Resahku kembali membuncah. Ini pertama kali aku bepergian dengan moda transportasi laut. Kapal besar yang gagah perkasa dan siap menantang lautan luas itu akan membawaku ke negeri jauh di ufuk timur. "Ayah-ibu, doakan anakmu!" Batinku berteriak meminta pertolongan dari rumah. Kepada langit kutengadahkan kepala. Sejurus kemudian, rapalan doa permohonan mengalir deras bagai air di dinding jurang. Aku meminta perlindungan-Nya. Aku memohon penyertaan para penghuni surga bagi perjalanan Misi yang mendebarkan ini. Jangkar dinaikan, tali-tali dilepaskan, kapal segera berangkat. Lambaian tangan mengiringi piasan buih ombak di moncong kapal. Deru mesinnya menambah gemuruh hujan sedih di hatiku. Detik itu tercatat dalam sejarah hidupku, untuk pertama kalinya aku pergi ke negeri jauh di selasar samudera. Aku meninggalkan ayah-ibu, rekan-rekan sepanggilan, dan tentu saja negeri yang sangat kucintai itu untuk mengawali petualanganku sebagai seorang misionaris muda.
"Tuhan, ke tempat inikah, Engkau mengutusku?" Tanyaku agak protes dalam nada tak bersuara kala pijakan kaki pertama kali kujejaki di tanah Misi pada 4 Maret di tahun itu. Terbayang berbagai macam kesulitan yang akan kuhadapi pada hari-hari yang akan datang di tanah asing ini. Bahasa, budaya, makanan, dan adaptasi lingkungan, hanya beberapa di antaranya. Jiwa mudaku agak goyah. Hatiku kembali gaduh. Negeriku telah kutinggalkan beribu-ribu mil di ujung barat. Kecemasan turut membelenggu jiwaku.
Welkom, broer!” Mgr. Clemens van der Pas, O.Carm, Perfek Apostolik pertama Malang menyambut kami di sisi stasiun kereta api Malang, 11 hari setelah kapal penumpang yang membawa kami dari Negeri Belanda membuang sauh di Batavia. Pemilik suara teduh itu menyalami kami dengan hangat. Sapaan dan senyumannya menenangkan. Sesaat aku merasa berada di negeri sendiri. Bersama sang Gembala dan para Imam Karmelit yang terlebih dahulu diutus ke negeri Hindia Belanda ini, aku mulai menata ruang rasaku.
Dewan Pimpinan Umum di bawah nahkoda frater Stanislaus Glaudemans memutuskan komposisi yang apik bagi kedua misionaris awal, aku dan frater Gregorius Goedhart. Beliau yang diutus menjadi misionaris saat berusia 63 tahun itu adalah seorang konfrater yang sifat manusiawi, tindakan, dan jalan hidupnya serba istimewa dan agung. Kata "Goedhart" pada namanya yang berarti "baik hati", arti itu betul-betul melekat pada dirinya. Dia adalah pribadi yang lemah lembut. Pilihan Dewan Pusat bagi peletak dasar kongregasi di Indonesia ini merupakan sepasang misionaris yang serasi. Aku, Wilfridus Weling, frater muda dengan semangat yang berapi-api perlu didampingi oleh seorang senior dan pemimpin yang matang dalam pertimbangan dan tindakan seperti frater yang memilih nama sama dengan nama Rumah Induk kita di Utrecht itu. Deus Providebit! Aku ingat semangat itu sebagaimana yang diteladankan Bapa Pendiri dan ketiga frater pertama di masa-masa sulit pada awal berdirinya kongregasi. Mereka selalu mempercayakan kesulitan mereka pada Penyelenggaraan Ilahi, biarlah Dia yang akan mencukupinya. "Bersama-Nya, kami akan belajar bagaimana menjadi bagian dari orang-orang sini," batinku bertekad.

|Frater M. Walterus Raja Oja, BHK|Malang, 01.01.2018|
sang tenang
Readmore → SEPASANG BENIH AWAL DI LADANG MISI

Wednesday, 21 June 2017

Darah Seorang Kafir

Ruangan itu terletak di lantai dua. Seingat saya, baru sekitar 3 bulanan aktivitas itu dilaksanakan dalam ruangan baru yang dilengkapi AC ini. Sebelumnya terjadi di ruangan utama, terletak di bagian depan, lantai satu gedung itu. Ruangan berukuran kira-kira 20x20 meter itu penuh dengan hiruk pikuk petugas yang sibuk mengurusi pekerjaannya masing-masing. Di salah satu sisi ruangan, duduk berderetan sekelompok orang yang sedang menunggu giliran untuk dipanggil. Mereka akan menjalani pemeriksaan sesuai standar prosedur yang berlaku. Pada salah satu dinding ruangan itu terpampang selembar banner berukuran besar dengan tulisan ini: “Setetes darah anda menghapuskan air mata duka dan menjadi harapan mereka”. Orang-orang yang sedang antre itu adalah mereka yang terpanggil untuk menerjemahkan makna kata-kata pada banner tersebut dalam praksis hidup mereka. Tempat itu adalah sebuah ruangan dari Unit Transfusi Darah PMI Kota Malang.

Siang itu, Johan, seorang pemuda kristiani berusia 33 tahun berada di antara antrean panjang orang-orang itu. Ia duduk di sebelah seorang bapak berprofesi sebagai seorang tentara. Mereka mengobrol, berbagi cerita tentang aksi donor darah yang telah mereka jalani selama ini.

“Kali ini, saya donor darah yang ke-67. Saya rutin ikut ambil bagian dalam aksi donor darah ini sejak SMA dulu. Ada satu kejadian yang tak terduga-duga. Suatu kali, tiba-tiba saya mendapat surat ucapan terima kasih dari seseorang yang mengaku selamat dari masa kritisnya karena kekurangan darah berkat transfusi darah yang saya donorkan di tempat ini. Rupanya petugas PMI sini menempelkan identitas dan alamat saya pada kantong darah yang didonorkan. Sehingga orang itu tahu, lalu memngirimkan surat apresiasi itu kepada saya. Saya terkejut dan bersyukur sekali karena hidup saya berarti bagi orang lain melalui aksi sederhana seperti itu. Saya merasa hidup saya menjadi lebih bermakna. Ada perasaan bahagia di dalam diri saya. Hal ini juga yang mendorong saya tetap setia dengan aksi donor darah ini hingga sekarang”, sharing bapak itu.

Sebuah kisah sederhana namun sangat inspiratif. Demikian kesan Yohanes, nama baptis pemuda yang disapa Johan itu. Sharing si bapak itu mengingatkan dia pada sebuah pengalaman yang tidak bisa dilupakan dalam hidupnya hingga hari ini. Sebuah pengalaman yang juga berkisah tentang imbalan yang diterimanya buah aksi kemanusiaan bernama donor darah yang hingga hari ini juga menjadi panggilan hidupnya. Dia menyadari bahwa dirinya tidak memiliki apa-apa untuk diberikan kepada orang lain. Sementara panggilan hatinya selalu mendorong dirinya untuk menghidupi semangat berbagi. Berangkat dari inspirasi yang ditimba dari sebuah cerita inspiratif yang dia baca di media sosial, dia pun menyadari bahwa Tuhan telah menganugerahkan kepadanya sesuatu yang sangat berharga yaitu darahnya. Dia bisa menggunakan darahnya untuk membantu orang lain. Semenjak itu dia mulai terbiasa dengan aksi donor darah. Selain sebagai bagian dari gaya hidup yang menyehatkan, baginya donor darah juga merupakan sebuah perbuatan kasih yang tidak bisa digantikan dengan apapun untuk menolong sesama yang berada di ambang harapan karena kasus kekurangan darah. Falsafah hidupnya amat sederhana, apa pun yang dia miliki jika itu memberi arti bagi kemaslahatan hidup sesamanya, dia akan melakukannnya, sekecil dan sesederhana apa pun itu. Kebijaksanaan hidup jejaka berdarah Flores ini berbuah kisah inpiratif berikut ini.

Suatu ketika, masih segar dalam ingatan Johan, tepat di hari ke-20 di bulan April 2009, peristiwa yang sungguh berkesan dalam hidupnya itu terjadi. Pada perayaan hari ulang tahun kelahirannya yang ke-25, tiba-tiba sebuah nada panggilan berdering di HP miliknya. Penelpon dengan nomor baru itu tidak dikenalnya. Dengan ragu-ragu dia menerima panggilan itu. Suara berat seorang bapak di ujung selulernya langsung terdengar tanpa menunggu nada “halo” terucap dari bibir Johan. “Nak Yohanes yah? Terima kasih nak, kamu telah menyelamatkan hidup bapak. Bapak sungguh berterima kasih, nak. Nanti kalau ada kiriman yang datang ke alamat nak Yohanes, diterima yah. Itu kiriman sebagai ucapan terima kasih dari bapak”. Handphone dimatikan. Hanya itu pembicaraan melalui alat komunikasi produk zaman modern itu. Lebih tepatnya hanya seperti itu informasi singkat dari pemilik nomor tak dikenal tersebut. Johan bingung. Apa maksud ungkapan “kamu telah menyelamatkan hidup bapak” dalam komunikasi via telpon seluler barusan. Namun karena Johan adalah seorang pemuda yang berkepribadian sederhana, dia tidak tertarik untuk mencari tahu.

Sorenya, pada hari itu juga, apa yang dikatakan melalui telpon pagi tadi menjadi kenyataan. Sebuah bingkisan dalam balutan kertas kado yang indah tiba di alamat, dimana Johan tinggal. Kiriman itu diterima oleh putri pemilik kos yang diam-diam menaruh hati pada Johan. Dia menyerahkan bingkisan itu kepada Johan dengan kesal. Mungkin dia berpikir, itu hadiah ulang tahun dari kekasih Johan yang bekerja di Kalimantan. Ternyata itu adalah kiriman dari seorang bapak yang mengaku hidupnya telah diselamatkan oleh Johan. Dengan agak ragu-ragu dia membuka, lantas membaca sepucuk surat yang terselip di dalam bingkisan itu.

Nak Yohanes yang terkasih. Mungkin nak Yohanes bertanya-tanya, apa maksud kata-kata bapak dalam telpon tadi pagi. Melaui surat ini, bapak ingin menjelaskan duduk persoalannya. Begini nak, dua pekan yang lalu, bapak dirawat di rumah sakit. Kondisi bapak kritis karena kekurangan darah. Jika tidak segera melakukan transfusi darah, mungkin nyawa bapak tidak bisa tertolong. Pontang-panting pihak rumah sakit bersama keluarga mencari darah. Tak seorang pun anggota keluarga dan kerabat bapak yang bisa membantu karena berbagai alasan medis. Hanya satu-satunya yang cocok dan bisa ditransfusi yaitu kantong darah yang ada di Unit Transfusi Darah PMI Kota Malang. Itulah kantong darah dari nak Yohanes. Sengaja putri bapak mencatat identitasmu yang tertera di kantong itu karena dia sangat yakin pemilik darah itu adalah harapan terakhir keselamatan bapak. Dan memang demikian nak. Setelah melakukan transfusi darah dari kantong satu-satunya itu, bapak sekarang sudah sehat kembali. Bapak berhutang nyawa kepadamu nak. Bapak mengucapkan berlimpah-limpah terima kasih.

Dalam amplop itu, bapak juga menyertakan sejumlah uang. Itu bukan untuk membeli darahmu, nak. Bukan untuk itu karena bapak tahu bahwa kamu tidak menjual darah tetapi dengan suka rela mendonorkan darahmu untuk sesama. Bapak ingin uang itu nak Yohanes pakai untuk kebutuhan pribadi, tetapi kalau kurang berkenan, kamu bisa pakai untuk lebih banyak lagi berbuat kasih kepada sesamamu, dalam bentuk apapun. Bantu bapak untuk menebus nyawa bapak dengan perbuatan cinta kasih yang kamu lakukan.

Untuk baju, itu adalah hadiah ulang tahun buat nak Yohanes. Bapak sengaja menghadiahi kamu kemeja itu karena bapak tahu nak Yohanes adalah seorang kristiani. Dalam hidup selama ini, bapak adalah seseorang yang sangat anti kristiani. Bapak selalu memberi ceramah-ceramah yang mengajak umat untuk membenci orang-orang kristiani. Bapak selalu merasuki umat bahwa orang-orang kristian adalah kafir. Bapak terlibat aktif dalam berbagai aksi intoleran terhadap umat kristiani selama ini. Namun, peristiwa dua minggu yang lalu membuat bapak sadar, nak. Bapak seolah-olah mendapat peingatan dari musuh yang bapak benci selama ini. Bukan aksi balas dendam, tetapi kejahatan bapak dibalas dengan kasih. Sungguh ajaran Tuhanmu, kamu hayati sungguh-sungguh dalam hidupmu. Bapak yang mengalaminya sendiri. Darahmu, nak, darah nak Yohanes, darah seorang kristiani yang bapak tahu selama ini sebagai orang kafir, telah menyelamat bapak dari ancaman maut. Bapak sungguh menyesal, nak. Bapak ingin bertobat. Bapak mohon bantuan nak Yohanes untuk mendoakan bapak. Kemeja pemberian bapak dipakai yah, nak. Bapak sangat berharap, saat kamu ke gereja mengikuti ibadah agamamu dan memakai baju itu, kamu selalu ingat bapak, lalu memohon pertobatan bagi orang tua yang jahat ini. Itu saja yang ingin bapak sampaikan. Sekali lagi, terima kasih atas kebaikanmu ya, nak. Bapak akan selalu ingat di sepanjang sisa hidup bapak. Bapak sekeluarga mengucapkan selamat ulang tahun untuk nak Yohanes. Semoga sehat selalu dan panjang umur yah. Oyah, yang terakhir, bapak juga sertakan titipan salam dari Fitri, putri semata wayang bapak untuk seorang pemuda berhati mulia yang telah menyelamatkan ayahnya. Dia adalah seorang gadis yang sangat mengagumi pemuda dermawan seperti nak Yohanes, apapun latarbelakang suku dan agamanya. Begitu katanya”.

Surat itu tanpa tanda tangan, nama dan alamat pengirimnya. Lagi-lagi Johan tidak mempersoalkan hal itu dan tidak ada niat mencari tahu sampai hari ini. Yang paling penting bagi dia apa yang menjadi penghayatan hidupnya sebagai pendonor darah yang aktif selama ini berguna bagi orang lain. Cerita sang bapak, sesama pendonor darah yang sedang antre di ruangan itu, mengembalikan ingatannya pada momen itu. Dia pun merasa hidupnya mempunyai arti bagi orang lain.

“Yohanes A. Mosa”, panggil petugas, membuyarkan lamunan Johan yang senyum-senyum sendiri karena mengingat kembali wajah si gadis manis, putri pemilik kos, tempat tinggalnya dulu. Dia kesal karena melihat ekspresi wajah Johan yang tersipu malu lantaran kata-kata pujian di penghujung surat itu.

Kota Bunga, Malang, Juni 2017
Walter Arryano BHK
Readmore → Darah Seorang Kafir

Saturday, 31 December 2016

Kerahiman Kamar Pengakuan

Namaku Nuela, diambil dari Emanuela karena aku dilahirkan di bulan Desember. Bulan yang sungguh indah bagi segenap umat kristiani di seluruh dunia karena pada bulan ini Sang Imanuel, Allah beserta kita dilahirkan. Aku adalah pemilik wajah cantik dengan senyum manis yang memesona. Aku baik hati dan tipe pribadi yang setia. Kehadiranku selalu menyenangkan orang-orang di sekitarku. Demikian siapa aku menurut teman-temanku. Namun, pengalaman hidupku tidak secantik wajah yang kumiliki. Aku akan menceritakan kisah hidupku untuk membuktikan kebenaran pernyataanku itu.

Seperti yang sudah kukatakan bahwa aku memang memiliki wajah cantik. Hal ini membuat aku menjadi primadona di kampusku dulu. Aku menjadi rebutan cowok-cowok keren, kaya dan cerdas. Adalah si Rio yang beruntung. Cowok hitam manis berdarah Flores yang murah senyum itu berhasil memikat hatiku. Dia memanggilku choti, kata bahasa India yang berarti adik perempuan. Itu bukan berarti dia menganggapku sebagai adik perempuannya tetapi dengan panggilan itu dia merasa lebih dekat dan nyaman dalam menjalin relasi denganku sebagai pasangan kekasihnya. Begitulah latar belakang pemilihan kata choti sebagai panggilan kesayangannya untuk aku.

Tiga tahun berpacaran semenjak pertama kali kami dekat di awal-awal masa kuliah semester satu di sebuah kampus negeri ternama di kota Malang. Kemudian peristiwa itu terjadi. Sebuah kenyataan yang nanti-nantinya akan menjadi beban hidup yang amat berat untuk ditanggung. Aku dinyatakan positif hamil oleh karena kedekatan kami yang terlampau jauh. Rio memang sungguh mencintaiku. Apa pun keadaanku, dia bertanggung jawab. Selama aku hamil, Rio bersedia menemani dan melayani kebutuhanku sebagai ibu hamil. Rio sungguh berperan sebagai “suami” yang bertanggung jawab. Kami sepakat untuk tidak memberitahukan peristiwa itu kepada orang tua kami masing-masing dan merahasiakannya dari orang-orang terdekat hingga bayi itu dilahirkan. Kami berencana akan menitipkan anak kami di panti asuhan. Itu memang pilihan terberat bagi kami dan aku sebagai ibunya akan menanggung beban psikis yang sangat berat dalam hidupku. Tetapi kami harus melakukannya mengingat masa depan kami yang belum jelas dan kuliah kami juga yang masih tertahan di awal semester tujuh karena cuti.

Rio memang sungguh bertanggung jawab. Dia tetap menjagaku selama masa kehamilan anak kami. Uang bulanan yang dikirim orang tuanya, kami pakai bersama untuk kebutuhan kami termasuk biaya pemeriksaan rutinku sebagai ibu hamil dan biaya rumah kontrakan yang kami tempati.

Akhirnya, aku melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat dan normal setelah mengandungnya kira-kira sembilan bulan. Setelah bersama kami sekitar tiga bulan, bayi itu kami titipkan di salah satu panti asuhan terbaik di kota Malang. Kami mendatangi suster pengasuh panti asuhan untuk menitipkan bayi itu. Kami membicarakan dengan baik-baik duduk persoalan dan latar belakang keputusan kami. Suster memahami dan menerimanya. Semua berjalan sesuai rencana kami.

Selanjutnya kami mulai lagi hidup kami sebagai mahasiswa. Kami melajutkan lagi kuliah kami yang sempat tertunda dan memutuskan untuk menjaga jarak agar tidak terjadi lagi hal-hal yang tidak diharapkan. Kami tetap berkomunikasi dengan baik dan berpegang teguh dengan komitmen bersama itu. Kadang-kadang kami berdua berkunjung anak kami di panti asuhan. Kami bertahan dengan kesepakatan itu sampai diwisuda menjadi serjana. Setelah itu Rio kembali ke kampung halamannya sedangkan aku memutuskan untuk menetap di Malang. Keputusanku disetujui oleh kedua orang tuaku. Sebagai lulusan terbaik dari universitas terbaik, aku dengan mudah diterima untuk bekerja di sebuah sekolah swasta favorit di kota Malang sebagai guru BP sesuai ijasahku.

Di luar rutinitasku sebagai guru, aku terlibat secara aktif di perhimpunan para pemerhati panti asuhan yang aku gagas sendiri bersama teman-teman yang memiliki minat yang sama. Aku melakukan itu selain karena aku berminat dalam karya sosial semenjak kuliah dulu juga sebagai panggilan hati untuk menyelamatkan jiwaku, menebus kesalahan yang pernah kubuat terhadap anakku sendiri. Dengan begitu, aku juga secara langsung dapat mengikuti proses tumbuh kembang putraku. Dengan selalu mengunjungi, menyalurkan bantuan ke panti asuhan-panti asuhan termasuk panti asuhan dimana anakku tinggal, aku mempunyai kesempatan bertemu dan berkomunikasi dengannya, tanpa dia dan orang lain tahu bahwa akulah ibu kandungnya, kecuali suster pengasuhnya. Sesungguhnya batinku tersiksa menyimpan rahasia ini. Ingin kuselalu memeluknya setiap kali berkunjung tapi aku tidak ingin menciptakan kesan pilih kasih bagi anak-anak panti yang lain. Suster yang mengetahui rahasia ini memahami sungguh perasaanku sebagai seorang ibu. Kadang dia berusaha menciptakan momen agar aku bisa berdua bersama anakku. Dan saat itu adalah momen terindah bagiku. Aku ingin jujur mengatakan sebenarnya tetapi aku tidak ingin hal itu melukai hati anakku. Aku juga takut dia menolak aku sebagai ibunya. Dia masih terlalu kecil untuk memahami itu semua. Aku bertahan dengan kenyataan itu dan berjanji dengan diriku sendiri pada saatnya nanti rahasia ini harus diketahui anakku, entah bagaimana caranya.

Suatu hari tiba-tiba aku mendapat informasi dari suster pengasuh bahwa anakku tidak tinggal di panti asuhan lagi. Sebuah keluarga dermawan dari Blitar mengadopsinya. Saat itu usianya empat tahun, dia akan masuk TK di bawah asuhan orang tua barunya. Hatiku hancur, aku kehilangan kontak dengan anakku. Semangatku aktif di perhimpunan yang sudah berkembang bagus selama ini menjadi redup. Aku kehilangan gairah. Namun aku tidak boleh egois. Anakku butuh figur ayah-ibu untuk membesarkannya. Mengetahui dia berada pada orang yang tepat yang dapat memenuhi kerinduan psikisnya, itulah sedikit hiburan yang membuatku tetap bertahan di organisasi yang aku gagas ini.

Waktu terus berlalu. Anakku tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas dan memiliki karakter yang kuat. Rupanya gen kecerdasan yang dimiliki Rio, ayah kandungnya menurun pada anakku. Orang tua angkatnya merawat dia dengan baik selayaknya anak sendiri. Karena kecerdesan dan kepribadian yang dimilikinya dinilai mumpuni, orang tua angkat anakku mengijinkan dia masuk seminari. Anakku bercita-cita menjadi Pastor, seperti yang selalu kutanyai dulu ketika mengunjunginya di panti asuhan.

Singkat cerita, ketekunan, kecerdasan dan kesetiaannya pada pilihan hidupnya, anakku diperkenankan untuk menerima sakramen imamat. Anakku ditahbiskan menjadi seorang imam praja keuskupan Malang. Aku menyaksikan seluruh rangkaian perayaan tahbisan itu dengan mata kepalaku sendiri. Sedih dan terharu, bercampur menjadi satu. Aku sedih karena bukan aku, ibu kandungnya yang berdiri di sana, mendampinginya. Aku terharu karena putraku, darah daging buah relasi di luar nikah bersama Rio, anak dari orang tua yang tak bertanggung jawab seperti kami ini, hari ini mataku menyaksikan sendiri dia diurapi menjadi imam Allah dalam sebuah perayaan yang khusuk dan meriah. Aku juga bahagia karena dari rahim wanita berdosa ini, terlahir seorang imam yang akan menyelamatkan banyak jiwa yang dilayaninya kelak. Aku berdoa dalam hati, semoga anakku setia dengan imamatnya dan menjadi seorang gembala yang mencintai dan dicintai umatnya.

Dan di kedalaman hatiku, aku menangis, meratapi nasibku yang tersiksa oleh sebuah rahasia besar yang hingga kini belum mampu kuungkapkan secara jujur terhadap anakku. Untuk ke sekian kalinya aku berjanji, termasuk di hari pentahbisannya ini, aku juga berjanji bahwa pada saatnya aku akan mengungkapkan rahasia itu. Rahasia yang membebani hidupku bertahun-tahun, sejak anakku masih bayi hingga kini dia telah menjadi imam. Rahasia yang membuat hidupku serasa tak memiliki makna di hadirat Tuhan. Karena memiliki rahasia itu, sudah bertahun-tahun pula aku tak pernah sekalipun menyambut komuni kudus pada setiap perayaan Ekaristi. Aku memiliki dosa besar yang butuh kerahiman Allah untuk mengampuniku. Sebenarnya aku memiliki kesempatan untuk menerima sakramen pengampunan, namun semenjak aku tahu anakku masuk seminari dan ingin menjadi imam, aku memutuskan akan melakukan rekonsiliasi langsung dengannya. Dengan anakku yang kini sudah menjadi pastor di parokiku, rencana yang sudah kubuat bertahun-tahun itu menjadi lebih mungkin dan mudah kulakukan.

Momen itu pun datang. Seperti biasa, menjelang perayaan Natal akan selalu ada penerimaan sakramen tobat sebagai bentuk persiapan bagi umat kristiani untuk menyambut kelahiran Sang Imanuel. Kali ini aku sungguh-sungguh berniat mengakui dosaku langsung pada pastor yang juga putraku sendiri sekaligus mengungkapkan rahasia yang selama ini kusembunyikan. Aku melakukan itu bukan karena kebetulan anakku menjadi bapa pengakuan tetapi lebih karena aku sudah siap setelah bertahun-tahun mengumpulkan energi keberanian untuk hal itu apalagi saat ini anakku yang sudah dewasa dengan martabatnya sebagai imam Allah yang Maharahim, aku yakin anakku lebih siap mendengar pengakuanku. Anakku akan sangat bijaksana menyikapi masalah ini. Aku juga sudah siap dengan berbagai konsekuensi yang harus kuterima, apa pun itu.

Kamar pengakuan sesaat menjadi lengang. Aku tertunduk dan diam. Aku tergugu, tak kuasa mengangkat kepala. Pengakuan dosa atau lebih tepatnya pengungkapan secara jujur rahasia yang selama ini kusimpan rapat-rapat itu berjalan lancar walau dadaku terasa sesak seperti ditindih beban berat. Aku menangis dan gemetar. Masih dalam posisi tertunduk. Sesaat aku mendengar suara sesegukan. Suara itu berasal dari orang yang ada di depanku. Sang gembala juga menangis. Mungkin dia marah, kecewa atau barangkali dia terharu bahagia karena bertemu dengan seseorang yang ternyata ibu kandungannya sendiri, begitu pikirku. Entahlah, aku sungguh tidak mengerti. Sang pastor tetap menuai tugasnya sebagai bapa pengakuanku saat itu. Dengan tenang dia menyuruhku mendoakan doa tobat sambil dia mendaraskan rumusan pengampunan dosa untuk memberi absolusi yang dikuasakan kepadanya sebagaimana dilakukan para bapa pengakuan pada umumnya. Semuanya berjalan seperti biasa hingga aku keluar dari kamar pengakuan untuk menjalani penitensi seperti yang diberikan sang gembala.

“Mama, sampaikan salamku untuk bapak”. Aku tidak salah dengar. Itu kata-kata dari mulut sang Pastor dari balik kamar pengakuan yang ditempatinya. Langkahku terhenti dan segera balik menghadap sumber suara itu untuk memastikan. Anakku memaafkan kami, orang tua kandungnya. Aku mendapati senyum pengampunan yang ikhlas di wajahnya. Plong. Beban berat yang selama bertahun-tahun lamanya menindih dadaku lenyap seketika. Aku menangis bahagia. Anakku memanggil aku “mama”, pertama kali dalam hidupku. Dan kata bapak dalam kalimatnya tadi menjadi tanda bahwa dia menerima aku dan Rio sebagai orang tua kandungnya. Ini sebuah sukacita besar bagiku dan tentu juga bagi Rio. Aku akan mengabarinya segera.

Natal tahun ini menjadi perayaan yang sungguh istimewa dalam hidupku. Aku menerima dua hadiah sekaligus, anakku memaafkanku dan aku pun bisa berdamai dengan rahasia yang selama ini menghatui hidupku. Aku sungguh mengalami belas kasih Allah melalui sakramen pengampunan yang kuterima melalui tangan terurapi, putraku sendiri. Aku akan mengingat selalu peristiwa ini sepanjang hidupku sebagai momen kerahiman kamar pengakuan. Aku semakin mengimani kerahiman Allah yang tanpa batas bagi siapa saja yang mau kembali kepada-Nya.

SALAM DAMAI NATAL UNTUK ORANG-ORANG TERCINTA. Ini adalah kata-kata yang tertulis dalam kartu itu. Sebuah kartu Natal yang dikuterima dari koster parokiku. Di bawah tulisan itu terdapat tiga foto. Paling kiri adalah foto aku dan Rio, di bawahnya ada keterangan: Bapak dan Mama yang telah menghadirkan aku di dunia ini. Paling kanan adalah foto orang tua angkat anakku, diberi keterangan: Ayah dan Ibu yang telah menunjukkanku bagaimana menjalani hidup di dunia ini. Dan yang ketiga, berada di tengah-tengah adalah foto dengan keterangan: Oma, malaikatku yang cantik nan lemah lembut yang dengan sabar mengajariku bahwa Tuhan memberikan empat orang tua kepadaku bukan tanpa alasan. Melalui Oma itu semua upaya “pembebasan” aku dari belenggu rahasia yang kusembunyikan selama ini menemui akhir ceritanya. Beliau yang selalu mendampingi anakku untuk menerima kenyataan hidup yang dialaminya. Semua rahasia masa kecil sejak dia diantar ke panti asuhan hingga diadopsi diceritakan secara jujur oleh sang Oma sambil terus mendukung anakku untuk memaafkan kami, orang tuanya. Proses itu adalah bagian dari penerimaan masa lalu yang harus dilakukan anakku dalam tahap-tahap formasi menjadi imam. Anakku melaluinya dengan baik hingga ia mengalami penerimaan yang sempurna. Sebuah bentuk penerimaan yang indah. Adalah Oma, suster pengasuh panti asuhan anakku dulu menjadi aktor di balik kisah ini semua termasuk yang memberikan fotoku bersama Rio kepada anakku.

Di bawah ketiga foto itu ada tanda tangan di atas nama, RD. Emanuel Mariano. Itu adalah nama anakku yang kini sudah menjadi seorang imam. Nama itu adalah gabungan dari nama baptis aku dan Rio. Dulu, ketika kami menyerahkan bayi Nuel ke panti asuhan, kami juga menyerahkan nama itu dengan pesan suatu ketika apabila Nuel akan dibaptis, gunakan nama itu jika dia dan orang tua angkatnya tidak keberatan. Kami berharap dengan dia memakai nama itu, itu berarti dia mau menerima dan mengakui kami sebagai orang tua kandungnya. Syukur kepada Tuhan, harapan kami akhirnya terpenuhi. Aku yakin semua itu merupakan rahmat yang diperoleh dari kemurahan kasih Tuhan yang tersimpul dalam kerahiman kamar pengakuan.
Readmore → Kerahiman Kamar Pengakuan

Thursday, 31 December 2015

Aku dan Ketiga Gadis Tak Bertuan

“Suster, sejak awal kita bertemu di tempat ini, saya sudah menaruh perhatian pada suster. Pembawaan suster yang tenang dan bersahaja membuat saya tertarik pada suster”. Aku pernah mengutarakan isi hatiku ini di hadapan seorang staf pembina dan didengarkan oleh 46 orang teman kita yang turut ambil bagian dalam kursus itu. Ungkapan perasaan itu tersampaikan secara jujur untuk menjawabi pertanyaan beliau, “apa yang kamu sukai dari kepribadian temanmu yang duduk persis di sampingmu setelah beberapa hari kalian berada di tempat ini?” Sejujurnya aku sedikit gugup sebagaimana dirimu. Hal ini terlihat jelas dari ekspresi wajahmu yang berubah memerah ketika harus jujur dengan perasaanmu sendiri menanggapi pertanyaan dadakan tersebut. Apalagi ungkapan hati kita direaksi “beda” oleh teman-teman yang memang sudah tahu bahwa kita dekat.
Berawal dari momen itu, kita semakin dekat satu sama lain. Kita selalu bersama setiap kali ada waktu luang di tengah-tengah rutinitas kita sebagai peserta kursus. Kuakui hal inilah yang membuat kita saling menaruh hati satu dengan yang lain. Kita merasa cocok. Ada perasaan yang mendorong kita untuk selalu bersama selain kesempatan-kesempatan yang oleh staf pembina mengharus kita untuk bersama seperti sharing Emaus, doa, makan, rekreasi, olahraga, dan sebagainya. Aku bersyukur karena mengalami perasaan itu. Hal itulah yang membuat kita berani membuka diri, membagikan apa yang menjadi pengalaman kegembiraan dan pergulatan hidup kita masing-masing. Kesetiaan untuk mau berbagi secara jujur mampu memberi inspirasi bagi yang lain. Kita diteguhkan oleh pengalaman orang lain karena dengan rendah hati mau belajar dari padanya. Itulah pengaruh positif yang kualami dari kebersamaan kita. Kau pun demikian. Kau berkata bahwa aku adalah pribadi yang banyak memberi inspirasi kepadamu. Aku turut berperan dalam usahamu untuk berdamai dengan masa lalumu. Ah, kau berlebihan. Padahal aku hanya membagi apa yang kebetulan aku alami.
Waktu pun terus berlalu hingga akhirnya kita harus berpisah setelah 50 hari bersama-sama. Berat rasanya menerima kenyataan ini. Sebuah realita bahwa kita harus kembali ke komunitas kita masing-masing tatkala keinginan untuk tetap bersama semakin kuat. Jujur kuakui bahwa diriku sebagai pribadi berperasa begitu terguncang saat tatapanku mendapati wajahmu yang sembab dipenuhi deraian air mata kesedihan. Sekuatnya aku berusaha menguatkanmu bahwa kita akan selalu bersama dalam doa-doa kita walaupun sebenarnya aku rapuh. Sesungguhnya air mataku juga mengalir dengan caranya. Walaupun dunia mungkin tidak melihatnya namum kuyakin kau pasti mengetahuinya. Terbayang hari-hari sepi yang akan kulewati tanpa kehadiranmu. Aku akan tersiksa akan rasa rindu yang tak tertahankan. Aku rindu pada wajah teduhmu. Aku rindu pada aura tenangmu. Aku rindu pada senyum gingsulmu. Ah, yang terakhir ini yang paling menyiksaku. Senyum ginsulmu itu sangat “sesuatu”. Dan aku akan sangat merindukannya. Aku juga rindu pada suasana kebersamaan kita untuk berbagi bersama ade kecil kita, si kayu kering. “Selamat jalan, gingsul. Hati-hati yah… Hubungi aku jika dirimu sudah memiliki HP!” Kata-kataku berusaha tegar mengiringi perpisahan kita.

***
Kayu kering. Itulah nama yang kuberikan padamu. Aku membanggilmu demikian berangkat dari sebuah kisah yang hanya kau dan aku yang tahu. Kehadiranmu memberi warna dalam cerita kebersamaan kami, aku dan si gingsul. Di bawah naungan pepohonan di hutan pinus itu, kita menghabiskan waktu bersama sambil ngobrol, berbagi cerita tentang kisah hidup kita masing-masing. Dari sinilah kau dan si gingsul mengenal diriku sebagaimana aku mengenal siapa dirimu dan dirinya dengan latar belakang yang telah membentuk kita menjadi seperti sekarang ini.
Badanmu memang kecil mungil, usiamu masih muda tetapi kedewasaanmu layak diperhitungkan. Kau tak segan-segan menasihati kami, mengungkapkan petuah-petuah bijak yang menumbuhkan jiwa kami. Pengalaman dan kepribadianmu memberi kami inspirasi sehingga kami belajar banyak hal dari padanya.
Aku sebagai satu-satunya lelaki yang ada dalam kebersamaan kita tak pernah menyadari bahwa kesempatan untuk selalu bersama di antara kita yang terlampau sering menimbulkan perasaan suka. Diam-diam kau menaruh hati padaku. Aku sungguh tak tahu lantaran sikap dan perhatianmu tak ada yang berubah sejak pertama kali kita bertemu. Kau tetap menjadi ade kecil kami yang sungguh manis dalam tindakan dan tutur kata. Kau tetap setia melakoni peranmu sebagai penghubung relasi antara aku dengan si gingsul. Kau tetap pada posisimu sebagai malaikat kecil kami, tempat curahan isi hati kami. Ah, kau memang sungguh hebat menyimpan perasaan itu rapat-rapat seperti katamu bahwa orang yang bersangkutan tidak akan tahu kalau kau menyukainya sebelum kau secara jujur mengatakannya.
Bagaimana perasaanmu? Sakitkah hatimu? Belakangan baru aku tahu. Ternyata kau mau berkorban perasaanmu itu demi kami, demi aku yang sudah kau anggap seperti kakakmu sendiri dan demi si gingsul yang menjadi sahabat terbaikmu. Kau lakukan itu lantaran kau ingin menghargaiku sebagai kakak dan tidak tega menyakiti si gingsul, sahabatmu sendiri. Dan di atas segalanya, pengorbananmu semua karena kau menyayangi kami. Rahasia ini terungkap ketika kita telah kembali ke komunitas kita masing-masing setelah 50 hari kita bersama-sama. Kau jujur dengan perasaanmu itu setelah aku banyak bercerita tentang si bawel, gadis sedaerahmu yang kini bekerja di sebuah rumah sakit milik tarekatmu.

***
Cerita awal kedekatan kita memang agak aneh. Kita belum pernah ketemu, tidak pernah bersua muka tetapi kita akrab layak orang yang sedang pacaran. Lebih dari setahun kita menjalin relasi jarak jauh ini. LDR alias long distance relationship, begitulah kalangan muda memberi judul pada hubungan jenis ini.
Kau adalah gadis cantik berambut lurus. Aura keturunan Dayak tergambar jelas pada wajah manismu. Aku menaruh hati padamu berawal dari waktu dan alat komunikasi yang selalu mendekatkan jarak kita. Saban hari kita selalu berbagi kabar, perhatian dan pengalaman-pengalaman harian kita. Relasi kita yang awalnya hanya dijembatani oleh media sosial itu kini membentuk suatu ikatan kedekatan yang cukup indah untuk dijalani. Kuakui bahwa aku nyaman berada dalam relasi ini dan kau pun demikian.
Aku nyaman menjadi seorang kakak yang menyayangimu. Kau merasa bahagia oleh karena kehadiranku di setiap waktumu. Berbagai cerita kita bagi bersama. Kau selalu rindu pada kisah konyol yang membuat harimu terasa indah oleh warna cerita bualan rekaanku. Aku selalu rindu pada ocehan mulutmu yang selalu bereaksi mencereweti setiap keanehan yang kulakukan. Atas dasar inilah aku mempunyai alasan untuk memanggilmu, si bawel.
Kini kau bekerja di sebuah rumah sakit swasta yang dikelola oleh sebuah lembaga hidup bakti setelah kau menuntaskan pendidikan tinggi di sebuah universitas ternama di kota Pontianak. Seorang biarawati yang menyarankanmu untuk memasukan lamaran pada rumah sakit itu. Dialah seseorang suster yang kupanggil dengan nama si kayu kering. Dalam kesempatan bersama untuk mengikuti suatu kursus, aku sempat bercerita tentang kedekatan kita padanya. Dari sinilah awal ceritanya sehingga kini kau menjadi bagian dari staf kepegawaian rumah sakit milik tarekatnya itu.
Kau sudah bekerja di rumah sakit itu dan setiap hari kau bertemu si kayu kering. Selama ini kalian sering bersama dan kadang kalian mengisi waktu-waktu bersama dengan mengisahkan kembali cerita-cerita yang pernah terungkap antara aku dan dirimu maupun aku dan dirinya. Ya…, kalian kini adalah dua dari tiga sahabat yang menyayangi dan disayangi oleh seorang laki-laki, aku.

***
Akhirnya semua rahasia tentang relasi kami satu per satu terbongkar. Kenyataan-kenyataan yang semestinya hanya diketahui di kalangan aku dengan si gingsul dan si kecil atau aku dengan si kecil dan si bawel terungkap dengan caranya pada waktu yang tak direncanakan. Si gingsul merasa sangat bersalah setelah mengetahui bahwa ternyata si ade kecil juga menaruh hati padaku seperti dirinya. Si bawel pun demikian. Dia juga merasa sangat bersalah pada si ade kecil setelah mengetahui bahwa mereka memiliki perasaan yang sama terhadap aku.
Akulah aktor di balik semua skenario pengungkapan rahasia-rahasia ini. Akulah yang mendalangi semua pengakuan akan kebenaran tentang relasi di antara kami yang pada akhirnya membuat kebersamaan kami semakin indah, jujur dan membahagiakan. Aku bahagia menjadi satu-satunya lelaki paling ganteng di antara tiga perempuan cantik yang disayangi dan menyayangiku. Aku berkomitmen menjadi seorang sahabat, saudara, kakak dan juga “musuh” bagi mereka. Kami akan terus bersama, saling mendoakan dan tak akan ada satupun yang tersakiti.
Tinggal satu “pekerjaan” lagi yang menjadi perjuangan kami bersama yaitu mendoakan dan mendukung adik kami yang termuda, si bawel yang memilih panggilan berbeda dengan kami agar dia menemukan seorang pria yang tepat sebagai pendamping hidupnya. Sementara kami bertiga akan saling mendoakan untuk keteguhan panggilan hidup yang sedang kami jalani saat ini.
Demikianlah kisah kami. Kisah antara ketiga gadis tak bertuan dan aku, si kakak manis, hehehe.

Malang, akhir Desember 2015
Untuk mereka yang kusapa ade bawel, ade gingsul dan ade kecil
Readmore → Aku dan Ketiga Gadis Tak Bertuan

Tuesday, 30 June 2015

Ayah, Pemilik Cinta yang Hampir Dilupakan

Aku pernah membaca sebuah buku kecil yang di dalamnya tertulis kisah-kisah menarik tentang seorang ayah. Aku membeli buku itu di sebuah minimarket dekat rumah. Setelah membaca penggalan-penggalan cerita pendek yang dikisahkan dalam buku setebal 190 halaman itu, aku menjadi sangat rindu pada ayahku yang berada di kampung.
Kisah-kisah inspiratif tentang seorang ayah yang disampaikan melalui buku kecil itu membawaku pada sebuah kesadaran bahwa begitu besar cinta seorang lelaki yang diserahi amanah oleh Sang Khalik menjadi ayahku. Cinta tulusnya yang kadang tampak tersamar karena bersembunyi di balik kelembutan kasih sayang ibu. Benarlah kata orang bahwa seorang ayah adalah pemilik cinta yang kadang tak dianggap. Demikian juga ayahku. Mengatakan bahwa ayah mencintai kami, putra-putrinya rasanya aneh. Apalagi setelah ibu meninggal dunia, ayah pergi meninggalkan kami untuk merantau ke negeri orang. Bertahun-tahun hidup tanpa orang tua, bisa dibayangkan betapa merananya kami.
Namun itu dulu. Sekarang, saat usia kami beranjak dewasa, setelah kedua putri ayah telah menikah, kami baru menyadari betapa ayah sangat mencintai kami. Dulu kami sering protes kepada ayah, mengapa ayah tega meninggalkan kami setelah kami baru saja ditinggal ibu untuk selamanya. Sekarang, ketika kami telah mengerti tentang hidup dengan segala dinamikanya, kami baru menyadari bahwa ayah memutuskan pergi merantau bukan karena ingin menelantarkan kami. Ayah terpaksa melakukan hal itu karena ayah tidak kuat menghadapi kenyataan hidup bahwa dia harus kehilangan istri yang sangat dicintainya ketika kami masih kecil. Bagi ayah, kehilangan ibu dapat diibaratkan dengan seorang pelukis yang kehilangan pengelihatannya, seperti seorang musisi yang kehilangan pendengarannya atau seperti seorang koki yang kehilangan daya kecapnya.
Banyak orang mengatakan bahwa kepergian ayah meninggalkan kami untuk menghindari tanggung jawabnya sebagai orang tua. Apalagi semenjak ayah memiliki istri kedua setelah kepulangannya yang pertama dari tanah rantau. Keluarga besar ibu sangat kecewa dengan keputusan ayah ini. Aku dan kakak-kakakku dulu juga merasakan seperti itu. Namun sekarang kami baru menyadari bahwa ayah peduli dengan kehidupan dan masa depan kami. Ayah sebenarnya tidak tega meninggalkan kami untuk pergi merantau. Tuntutan situasilah yang membuatnya seperti itu. Dengan pergi merantau ayah hanya ingin melupakan ibu yang telah meninggalkannya. Walaupun sulit tetapi cara inilah yang bisa dilakukan ayah saat itu untuk menyembuhkan luka hatinya lantaran ditinggalkan wanita yang sangat dikasihinya, ibu kami. Tentang keberadaan ibu tiriku, ayah bermaksud dengan kehadirannya bisa memenuhi dahaga kami yang kehilangan kasih sayang seorang ibu. Apalagi ibu tiriku adalah sepupu ibuku sendiri. Ah…ayahku memang benar-benar pemilik cinta yang terlupakan. ***
“Ayah, terima kasih atas kegantengan yang kau wariskan kepadaku”. Aku pernah mem-posting kata-kata tersebut di media sosial, facebook. Sebuah kalimat pendek yang sukses menuai beragam komentar, entah yang mendukung maupun sebaliknya. Namun bukan untuk itu tujuannya. Aku menulis kata-kata itu sebagai ungkapan rasa banggaku pada ayah. Kegantengan yang kumaksudkan tidak bemakna harafia belaka. Karena memang demikian adanya. Ayahku tidak setampan bintang film Bollywood atau segagah actor-actor Hollywood. Ayahku hanyalah seorang pemuda kampung yang menjadi istimewa karena menikahi ibuku yang adalah seorang gadis cantik puteri seorang pemuka wilayah. Menurut cerita ayah, perjodohan mereka terjadi karena orang tua ibuku mengetahui bahwa orang tua ayah memiliki persediaan belis (gading gajah) yang banyak sebagai mahar perkawinan sebagaimana yang lazim dalam adat perkawinan di daerah kami. Ada 12 batang belis yang dibawa orang tua ayah untuk meminang ibu. Atas dasar inilah ayah dan ibu menjadi sepasang suami istri dan orang tua bagi kami. Pesta pernikahan mereka menjadi yang terbesar dalam sejarah perayaan-perayaan dalam keluarga besar kami. Begitulah nenekku sering bernostalgia ketika hati kami sama-sama merindu pada sesosok pribadi yang adalah ibuku dan juga puteri nenek.
Seorang Pastor pernah berkisah kepadaku untuk melengkapi cerita nenek. Katanya pernikahan orang tuaku memang sangat meriah dan berlangsung secara besar-besaran. Masih segar dalam ingatan sang Pastor yang kala itu masih seorang murid SD, sebuah lagu yang diciptakan khusus untuk pernikahan ayah-ibu. Dalam tradisiku, lagu itu diberi nama ”more”, sebuah lagu kenangan yang berisikan lirik-lirik bernuansa syukur dan pujian. Syair-syair lagu itu menjadi kenangan indah sang Gembala dan menjadi penyemangat beliau dalam perjalanan pastoralnya di daerah pedalaman Papua, tanah misi tempatnya berkarya saat ini.
Ayahku pekerja keras dan tekun. Dia memiliki jiwa seni. Cara kerjanya rapi dan tidak banyak menuntut. Meneladani kesederhaan hidupnya adalah modalku bagi perjalanan hidup panggilanku. Aku masih ingat pesan ayah ketika aku mau berangkat ke Malang untuk memasuki masa novisiatku, ayahku berkata, “nak, selamat jalan, berusahalah menekuni panggilan hidupmu dengan sungguh-sungguh. Jangan ikut orang, ikutilah ayahmu, orang yang tidak punya apa-apa ini.” Air mataku kadang tak kuasa kubendung ketika hatiku rindu pada ayah dengan kata-katanya yang sederhana ini. Pesan ayah sangat membekas dalam ingatanku di sepanjang hidupku. Ayahku menekankan pengtingnya kesederhanaan hidup seperti yang telah ditunjukkannya kepada kami, anak-anaknya. Aku sangat bersyukur karena teladan kesederhanaan  yang diwariskan oleh ayahku ini sejalan dengan semangat yang dihidupi oleh tarekatku.
Satu lagi yang membuatku kagum pada ayahku. Ternyata ayahku adalah pesepak bola sejati. Ayahku memiliki talenta yang luar biasa dalam dunia sepak bola. Ayahku pernah berkisah, di usianya yang masih sangat muda, ayah pernah terpilih menjadi pemain bola kaki di tingkat kecamatan dengan spesialis posisi sebagai penyerang. Kelihaiannya menggiring bola yang didukung dengan kualitas skill yang mumpuni membuat ayahku menjadi istimewa di mata para penonton. Aksi-aksi brilian mengolah si kulit bundar itu menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh para penggemar ayahku. Semua itu diperoleh ayahku secara alami. Ayahku tidak pernah mengenal SSB yang memang tidak ada di kampung halamannya. Kemampuannya adalah murni sebuah bakat alami pemberian Yang Kuasa.
Namun, sayangnya bakat ayahku ini akhirnya tinggal cerita. Ayahku terpaksa meninggalkan dunia sepak bola seiring dengan berakhirnya masa lajang ayahku lantaran menikah dengan ibuku di usianya yang baru 18 tahun. Padalah ayahku sudah dipersiapkan untuk menjadi pemain kabupaten mewakili kecamatannya dengan jaminan akan diangkat menjadi PNS. Pelatihnya sangat kecewa ketika mengetahui hal ini dan untuk mengobati rasa kecewanya, ia ikut hadir dalam pesta pernikahan ayahku.
Ah…ayahku memang luar biasa. Hati kecilku selalu berteriak, “aku bangga menjadi puteramu, ayah”. Kebanggaanku pada ayah semakin lengkap ketika aku sadar bahwa kesukaannku di dunia sepak bola adalah warisan ayahku dan aku sangat menikmati permainan sepak bola untuk mengisi waktu-waktu olahraga di biara dengan posisi penyerang sama seperti ayahku ketika masih aktif sebagai pemain bola kaki. Itulah makna kegantengan yang kumaksdukan yang diwarisi oleh ayahku.
Semuanya berjalan secara alami. Ayahku tidak banyak bicara. Tidak melalui ceramah atau pun petuah-petuah bijak yang disampaikannya. Semua yang dimiliki ayahku diwariskan melalui pola tingkah dan teladan hidup yang ditunjukkan dalam kesehariannya. Atas dasar inilah aku sampai punya kesimpulan sendiri tentang ayahku.
Sebagai putera sulung ayah, aku akhirnya sadar bahwa ayah pergi merantau ketika aku masih sangat kecil itu merupakan cara ayah mendidikku. Ayah tidak pernah mengajariku cara berjalan ketika kakiku sudah bisa melangkah. Ayah tidak pernah mengajariku cara memegang sendok yang benar ketika mulutku sudah bisa mengunyah makanan sendiri. Ayah tidak pernah mengajariku cara berpakaian ketika aku mulai mengenal rasa malu. Ayah tidak pernah mengajariku cara berdoa ketika aku mulai mengetahui adanya agama. Ayah pun tidak pernah memelukku ketika hatiku menangis lantaran rindu yang tak tertahankan pada ibuku yang telah tiada. Ayah juga tidak pernah mengajariku cara bermain sepak bola yang baik yang menjadi kealihannya.
Namun, satu hal yang kutahu pasti, mungkin karena ayahku terlalu baik sehingga Tuhan mengajarinya cara dalam menata masa depanku. Ayah membiarkan aku belajar mandiri sejak dini tanpa bimbingannya agar kelak aku kuat dan tangguh menjadi pewaris trahnya. Ayah mengajariku terbiasa dengan pengalaman-pengalaman penderitaan dan hidup susah tanpa tangan kekarnya yang menyanggaku agar aku bisa memaknai setiap hikmah dan pesan di baliknya. Bagi ayah, penderitaan adalah sekolah hidup yang mengajariku untuk memahami dinamika hidup yang lebih mendalam dengan iman yang lebih kuat. Ayah mengimani sebagaimana adanya Jalan Salib dan Kalvari sebelum Paskah dan “kubur kosong” demikian juga akan selalu ada kabut penderitaan sebelum adanya sebuah terang kebahagiaan. Aku diberinya ruang dan waktu untuk belajar dan mengerti banyak hal secara mandiri di bawah bimbingan kakakku yang sulung yang kehadirannya merangkap ibu sekaligus ayah bagi kami. Apakah ayahku tidak bertanggung jawab seperti yang dikeluhkan oleh beberapa orang di sekitar kami? Dengan sadar aku mengatakan bahwa ayahku adalah seorang bapak yang baik, seorang ayah yang penuh tanggung jawab. Kesadaranku ini adalah buah refleksiku tentang peran ayah yang tak kelihatan tetapi ada. Ayah membiayai kebutuhan hidup kami terutama biaya sekolah kakak-kakakku dari hasil jerih payahnya di tanah orang. Saban hari dalam setiap detak jantungnya ada wajah dengan nama kami masing-masing yang menjadi jiwa-jiwa yang sangat dirindukannya. Di sela-sela kesibukannya, ada lantunan doa yang dihunjukkan untuk kebaikan, kesehatan dan kesuksesan kami, putra-putrinya. Tentu ayahku juga mempunyai harapan-harapan yang indah bagi setiap kami.
Dan kini, di senja kehidupannya, ayahku menjadi lebih bahagia bersama ketiga jagoan ayah, buah cinta ayah dari perkawinannya bersama mamaku yang kedua yang kini telah bertakhta di singgasana Bapa di surga bersama ibuku. Hari-hari ayahku menjadi lebih ceria berkat kehadiran tiga kehidupan baru, cucu-cucu ayah. Namun, ada satu yang menjadi harapan ayah tentu juga harapanku yaitu “menanggalkan” status “mama” yang melekat di pundak putri sulungnya dan menyandingkannya di sisi seorang pria yang menjadi suaminya. Dan juga ayah ingin melihat putra bungsunya melangkah pada jalan yang telah ditunjukkannya. Itulah sekelumit kebahagiaan ayah yang masih tersimpan di memori pengharapannya.
Dan aku dengan jalan panggilanku, bahagiakah ayah dengan jalan hidup yang kupilih ini? Aku menunggu senyum ayah menyambut jubah putihku yang melangkah ke altar Tuhan, mempersembahkan diriku seutuhnya untuk kemuliaan Nama-Nya. Itulah doaku dan semoga juga menjadi doa dan harapan ayah, pemilik cinta yang hampir dilupakan.

Rumah Retret “Bintang Kejora” Pacet, 26 Juni 2015
Didedikasikan untuk ayahku.

Oleh
  Walter Odja Arryano, BHK
Readmore → Ayah, Pemilik Cinta yang Hampir Dilupakan

Monday, 20 April 2015

Ada Rindu dari Surga

“Ibu adalah wanita terhebat di dunia ini. Selamat hari ibu.” Seorang sahabat menulis status di account  FB-nya demikian. Rangkain kata-kata itu mengusik pikiranku. Sungguhkah seorang pribadi bernama ibu adalah wanita terhebat di muka bumi ini?
Di suatu malam yang sunyi, aku duduk merenung, mencermati makna yang tersirat di balik deretan kata-kata yang baru saja kubaca di media sosial itu. Ditemani temaran kawanan bintang yang sedang asyik mendandani langit berpesona remangan cahaya rembulan malam itu, aku bangkit menatap angkasa ingin menggugat surga, kediaman abadi ibuku. “Sungguhkah ibu adalah wanita terhebat sehingga hampir semua lidah mengakuinya? Tuhan, tunjukkan kuasa-Mu! Biarlah ibuku memberi jawaban untuk membuktikan dirinya sebagai wanita terhebat di dunia ini agar rindu ini terobati, sakit kehilangan ini tersembuhkan, agar benak ini tak sangsi lagi dan lidah ini tak kelu tatkala hati teguh mengumandangkan kehebatannya seperti yang diungkapkan sebayaku!”
Entah apa jawaban dari surga kala itu, namun satu hal yang masih terlukis indah di hati ini adalah bahwa Tuhan telah menepati janji-Nya. Dia menunjukkan kuasa-Nya dengan menghadirkan ibuku melalui sosok yang tersamarkan dalam wujud air mata yang tak kuasa kubendung. Butiran-butiran bening yang pecah dan membasahi pipiku kala itu menjadi bukti reaksi surga menanggapi gugatanku perihal kehebatan seorang wanita yang menjadi ibuku. Aku terharu akan kasih Tuhan dan cinta ibuku yang selalu ada walau raga ini tak bisa memeluknya lantaran maut yang telah memisahkan kami. ***
Ibuku telah lama meninggal dunia. Ia meninggalkan seorang suami yang menjadi ayah kami, tiga orang puteri, kakak-kakakku, serta dua orang putera, aku dan adikku. Ketika ibu meninggal, aku berusia sekitar tiga tahun. Itu berarti kami telah menjalani hidup tanpa seorang istri dan ibu sejak lebih dari 28 tahun silam. Bagaimana rasanya hidup selama itu tanpa sesosok pribadi yang menduduki posisi penting dalam rumah tangga kami?! Tidak ada seorang istri yang mendampi ayahku dalam menahkodai biduk rumah tangga yang telah mereka bangun bersama; tidak ada seorang ibu yang menyiapkan sarapan buat ayah sebelum beliau ke ladang dan bagi putera-puterinya sebelum mereka berangkat ke sekolah; tidak ada seorang sahabat yang menjadi terman curhat bagi ketiga kakakku; tidak ada seorang mama yang menyusui adikku dan tidak ada lagi sejumlah litani tugas ibu yang lainnya. Yang ada hanyalah kesedihan dan kehilangan serta tuntutan hidup mandiri yang datang belum pada waktunya. Ayahku dituntut melakoni peran ganda sebagai bapak sekaligus ibu bagi kami. Kakakku yang sulung dipaksa mandiri, membantu ayah mengambil alih peran ibu walaupun usianya masih sebagai seorang dara yang baru beranjak remaja. Sungguh sedih, sangat kehilangan dan langkah kami tertatih-tatih. Itulah potret rumah tangga yang dibangun ayahku semenjak kepergian istrinya, ibu kami.
Aku adalah anak kesayangan ibu. Ibu sangat memanjakanku. Begitulah ayahku sering bernostalgia tentang cinta ibu bagiku yang diamini oleh ketiga kakakku. Bersama sang ayah, ibu rela meninggalkan kenyamanan kampung halamannya hanya ingin menyelamatkan hidupku dari “kekuatan-kekuatan lain” yang mengganggu. Dari kampung ke kampung terus berpindah-pindah, mencari ketenangan jiwa sembari mengusahakan berbagai langkah alternative sebagai silih atas amukan badai yang terus menggerogoti ketenangan bahtera keluarga kami. Saban hari suara tangisku memekik di keheningan malam tanpa ada penyebab yang jelas. Tak terkira seberapa seringnya aku sakit oleh deraan “angin kiriman” yang meyiksa tubuh mungilku. Demikianlah sang dukung kampung mengdiagnosis. Entah benar atau tidak namun itulah yang terjadi pada masa kecilku. “Karena alasan-alasan itulah, ayah bersama ibumu rela meninggalkan kampung, meninggalkan rumah tembok satu-satunya di kampung ini waktu itu, rumah yang ayah bangun dari hasil jeri payah ayah sebagai tukang gergaji kayu hutan yang didukung oleh kerja keras ibumu. Ibumu bersikeras mengambil langkah itu hanya untuk menyelamatkanmu. Begitu besar kasih sayang ibumu terhadapmu, nak. Dia pergi dari rumah ini hingga tak kembali lagi untuk selama-lamanya”. Ayahku pernah berkisah demikian di suatu senja di kediaman kami yang baru yang ayah bangun lagi di atas bekas bangunan rumah lama kami yang telah runtuh oleh gempa bumi melanda pulau Flores medio 1992. Ayah menuturkan kisah ini di liburan pertamaku setelah sekitar 9 tahun aku pergi dari rumah untuk menjalani pilihan hidupku sebagai seorang pengabdi di suatu lembaga religius di sebuah kota di pulau Jawa. Besarnya kasih sayang ibu terhadapku dilatarbelakangi alasan bahwa aku adalah satu-satunya putera ibu waktu itu semenjak kakakku yang laki-laki meninggal dan adikku belum terlahir. Kehadiranku menjadi alasan ibu melakukan apa saja agar aku tetap terlindungi. Bahkan menurut cerita, pada waktu menjelang ajalnya, ibu pernah berpesan khusus pada kakakku untuk selalu menjagaku. Apa yang ibu inginkan dariku? Bukankah anak-anak ibu masih ada yang lain? Mengapa aku menjadi istimewa di mata ibu? Mungkinkah karena aku putera pertama ibu yang akan menjadi penanggung jawab dan penerus trah keluarga yang dibangunnya bersama ayahku? Entalah!?
Namun, satu hal yang pasti bahwa kini, hati ini masih terus merindukan belaiannya, jiwa ini masih mendambakan curahan kasih sayangnya dan raga ini masih mengharapkan kehangatan pelukannya walau hari-hariku kian lelah oleh jarak yang tak terjamah pada bayangan surga, rumah abadi kediaman ibuku yang ternyata masih dalam fatamorgana.
Pengalaman kehilangan figur ibu bagi setiap kami mempunyai ceritanya masing-masing. Tidak banyak kisah bersama ibu yang mampu kurangkai menjadi cerita indah tentang kami, seorang ibu bersama putera kesayangannya. Bahkan sampai saat ini aku tidak mengenal wajah ibuku sendiri. Semua tentang ibu telah pergi bersama lajunya sang waktu yang terus beranjak. Yang tersisa hanyalah nostalgia ayahku, dongeng pelipur lara yang diberi judul “Mama” oleh kakak-kakakku dan kerinduan seorang putera yang pernah istimewa di hati ibu serta asaku, asa seorang anak manja yang kini sudah tumbuh dewasa untuk bertemu ibunya, hanya ingin menyampaikan isi hatinya yang terdalam, “maah, aku sangat merindukan mama”.  ***
Sebentar lagi waktu akan berpijak pada Senin, 20 April 2015, waktunya aku merayakan ulang tahun kelahiranku yang ke-31. Hasrat hati ingin berbagi kebahagiaanku bersama ibu yang mengandung dan melahirkanku. Namun apa daya surga-Nya tak kuasa kugapai. Bukan karena jarak yang memisahkan tetapi ini tentang waktu yang belum mengijinkanku. Aku masih mengembara di alam fana ini sementara ibuku telah bahagia di kebakaannya, di kediaman Bapa dan para kudus-Nya.
Pukul 00.00, tanggal 20 April 2015. Waktu itu pun tiba. Di pojok rohani di salah satu sudut kamarku, aku bertelut bersimbah rindu, mengakat hati sembari meluapkan hasrat jiwa yang tak tertahankan. “Maah, masih ingat, kan? Hari ini aku ulang tahun. Usiaku kini telah 31 tahun dan aku sudah besar, ma. Putera kecil mama kini telah tumbuh dewasa. Sejak kepergian mama 28 tahun silam duniaku menjadi sangat berbeda. Bersama ayah dan anak-anak mama yang lain, langkah kami tertatih-tatih menjalani hidup ini. Kadang kami jatuh terkulai lantaran kehilangan pijakkan penyangga hidup. Kadang hati kering dan jiwa kami rapuh oleh kehausan akan kasih sayang mama. Terbesit niat ingin menggunggat surga atas ketidakadilan yang kami alami. Mengapa mama tega meninggalkan kami? Mengapa Tuhan memanggil pulang mama ketika jiwa kami masih merangkak dan tubuh kami masih goyah? Namun keinginan kami tetaplah menjadi harapan kami dan rancangan Tuhan tetaplah menjadi kendehak-Nya. Bersama sang waktu yang terus bergulir kami pun terus melangkah dalam kepasrahan yang menjadi tuntutan tak terelakan di kala prahara ini melanda biduk rumah tangga yang telah dibangun mama bersama ayah. Walaupun langkah kami gontai, jiwa kami remuk dan asa kami seakan sirna namun kaki kami harus tetap berpijak, beranjak menyongsong hari menuju ke batas petang sampai senja berlalu hingga malam pun beranjak untuk menyambut rona mentari lagi. Di muara segala pencarian ini, kami akhirnya menyadari bahwa Tuhan telah menyediakan rencana indah di setiap jejak-jejak langkah kami, ada sungai kasih di ujung pijakkan jiwa kami yang haus. Terima kasih untuk Dia yang mama sembah di surga-Nya. Terima kasih untuk seorang suami yang mama tinggalkan untuk menjaga kami. Terima kasih untuk puteri sulung mama yang telah menjadi segalanya buat kami. Menjadi kakak sekaligus ibu bagi kami rasanya belum cukup untuk disematkan padanya karena dia memang lebih dalam segalanya. Dan juga terima kasih untuk sanak saudara mama yang dengan caranya telah mewarisi cinta mama kepada kami. Mama, kami sangat bersyukur atas pribadi-pribadi penuh kasih yang telah rela menjadi perpanjangan tangan mama dalam membimbing, mengarahkan dan memelihara kami.  Terima kasih atas keagungan cinta mama yang selalu ada buat kami sebagi sosok yang tersamarkan dalam diri mereka.
Kini aku, putera kesayangan mama telah melangkah jauh di jalan pilihanku. Sebuah jalan hidup yang juga adalah kehendak Dia yang memanggilku. Aku bahagia memilih jalan ini, ma. Demikian juga ayah dan putera-puteri mama yang terus mendukung dan mendoakanku. Aku berharap mama juga demikian. Aku memilih jalan ini bukan karena ingin lari dari tanggung jawabku sebagai salah satu penerus keluarga kita. Kewajibanku seperti yang diharapkan mama tetap akan kujalani tentu dengan caraku.
Mama, pada tepian refleksiku, aku akhirnya tersadar akan cara Tuhan menyiapkan jalan hidupku. Mama telah pergi untuk selamanya ketika aku masih kecil adalah kebijaksanaan Tuhan dalam menata diri dan seluruh adaku untuk kelak aku siap sebagai pengabdi di jalan panggilan-Nya. Aku bersyukur untuk anugerah ini. Bahwa kepergian mama adalah anugerah terindah bagi jalan hidupku. Mama, ternyata aku tetap istimewa di hati mama. Ah, rindunya hati ini tak tertahankan. Ingin kumemeluk dan dan terlena di pangkuan mama sembari mengungkapkan madah jiwa yang telah sekian lama termaktup di singgasana hatiku: terima kasih atas keagungan cinta mama untukku”.
Menulis tentang ibu serasa melangkah di jalan tak berujung. Susah menemukan tempatnya bahkan hanya untuk sekedar membubuhi tanda titik bahwa kisahnya telah berakhir. Menulis tentang ibu adalah menguraikan cerita tentang kisah yang tak ada ending-nya. Itu tentang memulis, apalagi kalau judulnya adalah curhat yang saat ini sedang kulakukan bersama ibuku yang jasadnya telah berpusara tetapi jiwanya masih diam di relung hati ini, di kelenaan alam rinduku. Namun, aku harus mengakhirinya agar malamku mampu merengkuh mimpi indahnya dalam tidurku bersama-Nya sembari menengadahkan asa bahwa dengan kuasa-Nya, Dia mau mempertemukan aku dengan ibuku agar ocehan bertema rinduku pada dirinya ini menemui tanda titiknya sendiri dan kisah tentang pengembaraan rasa rinduku juga menemui jalannya sendiri untuk berlabuh. “Selamat ulang tahun, anakku. Peluk, cium dan sayang dari mama untukmu.” Suara ibuku membawa rindunya dari surga.

Oro Oro Dowo 58 Malang, 20 April 2015
Didedikasikan untuk seorang penghuni surga yang pernah menjadi ibuku

  Walter Odja Arryano, BHK
Readmore → Ada Rindu dari Surga